Riau (Inmas) - Selama ini, rekam biometrik untuk keperluan pembuatan visa umrah dan haji hanya dilakukan begitu para jemaah mendarat di Jeddah, Arab Saudi. Prosesnya pun tidak berlangsung lama karena hanya membutuhkan waktu 5 menit saja. Tapi sejak diberlakukannya sekitar Oktober 2018, proses rekam biometrik itu dipindahkan ke negara-negara asal jemaah haji dan umrah. Termasuk Jamaah Indonesia, khususnya Riau.
Kepala Bidang PHU membenarkan hal itu saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Rabu (27/03). Erizon mengatakan untuk kebijakan baru tentang perekaman biometrik yang dilakukan di Riau, awalnya dipusatkan di Adi Sucipto akhirnya Kanwil Kemenag Riau berupaya agar dilakukan di Aula Kemenag Riau, sehingga dapat memudahkan calon jemaah haji sekaligus kenyamanan mengingat tempat nya yang cukup luas. Dan Alhamdulillah itu berhasil dan bisa memberikan kenyamanan pada jamaah.
Meski sudah berlangsung selama sepekan hingga hari ini, namun pihaknya mengeluhkan layanan terutama fasilitas alat perekam yang masih minim. VFS Tasheel hanya bisa melakukan 200 perekaman dalam satu hari, karena itu pihaknya mengkhawatirkan tidak bisa selesai sesuai dengan batas akhir waktu yang ditentukan. "Mereka juga tadinya berjanji menambah dua titik layanan lagi, tapi belum juga terwujud, sementara akhir April ini perekaman harus sudah selesai", sebutnya.
Erizon berharap stakeholder dan KBIH di Kabupaten/kota bisa memberikan informasi dan pengertian kepada jamaahnya terkait kendala kendala dari kebijakan Pemerintahan Arab Saudi yang harus dijalani di Indonesia.
“Kita harus tunduk dengan aturan ini, sepanjang kita bisa berkoordinasi syukur syukur layanan terbaik kepada jamaah bisa diakomodir mereka, namun karena alasan keterbatasan anggaran dan SDM operator pihak VFS Tasheel tidak mudah mewujudkan usulan kami terkait perangkat dan titik layanan rekam biometrik”, lanjutnya.
“Kalaulah terwujud tiga titik saja, pasti akan mempermudah jamaah kita, contoh di Inhu bisa digabungkan dengan Inhil dan Kuansing, untuk Kota Pekanbaru bisa digabungkan dengan Pelelawan, Siak, Kampar, Meranti dan Rohul. Begitu pula untuk Dumai digabungkan dengan Rohil dan Bengkalis”, ucapnya berharap.
Tercatat sampai hari ini, total jamaah yang telah melakukan perekaman sebanyak 667 CJH. Sementara yang sudah diusulkan dan di entri ke Indohaj sebanyak 4117 CJH. Dan CJH yang sudah disetujui oleh Indohaj itu sebanyak 2115.
“Artinya waktu yang sudah dilalui selama sepekan ini, sudah mencapai 600 jamaah, maka sekarang akan kita usulkan ke pihak VFS Tasheel rata rata 200 perhari. Walaupun permintaan dari jamaah 250, namun yang bisa diselesaikan dalam 1 hari maksimal hanya 200 CJH saja” jelas Erizon.
Diperkirakan butuh waktu selama 25 hari untuk perekaman yang dilakukan sebanyak 200 perhari, ini masih bulan Maret, masih ada waktu. “Untuk melakukan rekam Biometrik tak semudah yang kita bayangkan, data jamaah harus kita entri dulu, setelah disetujui oleh VFS Tasheel baru kemudian dikirim jadwalnya via email, baru bisa kita memanggil jamaah”, urainya lagi.
Koordinasi seperti inilah yang perlu dijaga secara berkelanjutan, jika perlu 24 jam bidang PHU bisa aktif mengecek email yang masuk dari VFS Tasheel, kadang ada yang sudah tengah malam baru dibaca dan itu langsung direspon, tukasnya.(vera/tarom)