Riau (Inmas) - Pemerintah Arab Saudi telah mewajibkan perekaman data Jamaah Calon Haji (JCH) dengan Biometrik melalui VFS-Tasheel. Sistem ini dinilai justru memudahkan jamaah haji Indonesia ketika sampai di Bandara Madinah. Membenarkan hal itu, Khusus untuk tahun ini, Pemerintah Arab Saudi telah menunjuk VFS Thaseel sebagai perusahaan perekam biometrik,” kata Kepala Bidang PHU Kanwil Kemenag Riau Erizon Efendi saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (27/03).
Erizon menjelaskan, data biometrik ditetapkan dalam syarat yang harus dilampirkan ke VFS Tasheel, perusahaan penyelenggara pembuatan visa di bawah Kedutaan Besar Arab Saudi. Syarat ini diberlakukan sejak Oktober dan diresmikan pada 17 Desember 2018 lalu.
Dalam persyaratan tersebut, VFS Thaseel mengharuskan jemaah haji di setiap negara melakukan proses rekam biometrik sendiri. Hasilnya digunakan sebagai syarat pembuatan visa. Padahal, sebelumnya rekam biometrik untuk keperluan pembuatan visa umrah dan haji hanya dilakukan begitu para jemaah mendarat di Jeddah, Arab Saudi. Prosesnya pun tidak berlangsung lama karena hanya membutuhkan waktu lima menit, tapi antriannya ini biasanya membutuhkan waktu lima jam.
“Ini merupakan kebijakan pemerintahan Arab Saudi, bukan Kementerian Agama, tetapi karena aturan ini ada kaitannya dengan jamaah haji, mau tak mau tetap kita akomodir dan laksanakan secara nasional.
Bedanya dengan tahun lalu, untuk rekam biometrik ini bukan syarat mutlak dalam pengurusan visa, masih diberlakukan rekam biometrik diembarkasi. Tahun ini, Pihak Arab Saudi menjadikan rekam biometrik sebagai syarat pembuatan visa. “Kebijakan ini lah yang sulit kita laksanakan, secara nasional termasuk Riau, karena titik layanan yang disediakan Pihak VFS Tasheel tidak sesuai dengan yang kita inginkan”, ungkapnya kepada humas.
Dari awalnya pihaknya mengaku telah mengusulkan 9 titik layanan di Riau agar lebih mudah datang ke kantor FVS Tasheel. Namun kenyataannya pihak VFS Tasheel, belum bisa memenuhi usulan itu. “Makanya pada Rakernas lalu, kita usulkan tiga titik layanan, kalau tidak bisa 9 titik, dan untuk tiga itu Pekanbaru, Dumai, dan Inhu.
“Sampai hari ini, yang tiga titik layanan ini pun tidak terwujud, dan saat ini hanya ada satu titik layanan saja untuk tiga perangkat, di Pekanbaru. Informasi awal menurut VFS Tasheel ada 15 perangkat untuk Pekanbaru, tapi buktinya hanya dua perangkat yang didatangkan ke Pekanbaru, ditambah 1 perangkat lagi yang dari Adi Sucipto dipindahkan ke Kanwil Kemenag Riau.
Kendala ini yang menjadi problem bagi Kemenag Riau dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah dari kabupaten /kota. “Meskipun penambahan titik layanan dan perangkat belum ada sampai hari ini, kami terus melakukan koordinasi dengan pihak Tasheel melalui pimpinan cabangnya Tiwi, Sari dan Rizal”, sebut Erizon.
Menurut Erizon, apapun kondisinya sistem ini tetap kita lalui dengan segala konsekuensinya dan terus melakukan komunikasi, meski perangkat yang ada saat ini masih sangat terbatas, kita berupaya melakukan pelayanan terbaik kepada jamaah. (vera/tarom)