Tangerang (Kemenag) — Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Yudi Latif menegaskan bahwa perkembangan peradaban, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang semakin canggih tidak akan menghapus fenomena keagamaan. Menurutnya, agama merupakan bagian intrinsik dari eksistensi kemanusiaan dan karena itu akan selalu relevan di masa depan.
“Apapun perkembangan peradaban ke depan, secanggih apapun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, itu tidak akan mematikan fenomena keagamaan. Jadi tak usah khawatir Kementerian Agama kehilangan relevansinya di masa depan,” ujar Yudi Latif dalam Lokakarya Sesi Pertama Rakernas Kementerian Agama 2025 bertema Menggagas Umat Masa Depan: Antara Idealita dan Realita, di Atria Hotel Tangerang, Senin (15/12/2025).
Lokakarya ini dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Sekretaris Jenderal Kemenag, para Direktur Jenderal, serta jajaran pejabat eselon Kemenag. Selain Yudi Latif, narasumber lain yang hadir adalah Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno (tokoh agama dan budayawan), Prof. Dr. Philip Kuncoro Wijaya (Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia), dan Dr. I Ketut Budiawan, S.H., S.Pd.H., M.H., M.Fil.H. (Sekretaris Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia). Lokakarya dimoderatori Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Mastuki.
Yudi Latif menjelaskan, manusia adalah homo duplex—hidup dalam dua level, profan dan sakral—sebagaimana dikemukakan Emile Durkheim. Karena itu, manusia tidak bisa meninggalkan momen sakral dalam hidupnya. “Fenomena keagamaan tidak bisa dibunuh. Yang terjadi bukan orang meninggalkan agama, tapi berpindah ruang sakralnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengembangkan belief and values. Selama manusia tetap menjadi manusia, dimensi keyakinan akan selalu dibutuhkan. Dalam perspektif Clifford Geertz, agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk mindset manusia, baik untuk tujuan kebaikan maupun sebaliknya.
Menghadapi masa depan, Yudi Latif menilai agama harus belajar dari masa lalu, namun bukan dengan pendekatan reproduktif, melainkan rekonstruktif. “Jangan membawa agama kembali ke museum masa lalu. Yang kita cari dari masa lalu adalah apinya, bukan abunya,” tegasnya.
Dalam konteks Indonesia, ia melihat Islam Indonesia sebagai replika dari Islam Madinah yang inklusif dan majemuk. Menurutnya, Islam di Indonesia berkembang sebagai Islamicate, yakni Islam yang memainkan peran besar secara budaya, namun tetap ramah dan menyertakan peran unsur-unsur lain. Fenomena ini, kata Yudi Latif, terejawantah dalam Pancasila dan dalam perkembangan Bahasa Indonesia yang inklusif.
“Kalau ingin melihat bagaimana Islam di Indonesia, lihat ekspresinya dalam Bahasa Indonesia. Bahasa ini dibangun oleh banyak agen peradaban—Buddha, Islam, Kristen, hingga Tionghoa—tanpa paksaan dari kelompok dominan,” jelasnya.
Yudi Latif juga menyoroti tantangan masa kini berupa pudarnya daya spiritual, kemanusiaan, dan keadilan. Ia mengingatkan bahwa banyak orang bertuhan, namun tidak memijarkan sifat-sifat ketuhanan dalam kehidupan publik. “Ruang publik kita akan sehat jika sifat-sifat ilahi seperti welas asih hadir dalam kehidupan bersama,” katanya.
Menurutnya, Pancasila menyediakan kerangka filosofis untuk menjawab tantangan tersebut, mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, persatuan yang berwawasan ekologis, musyawarah dengan hikmah kebijaksanaan, hingga keadilan sosial. Ia menekankan pentingnya distribusi keadilan dalam harta, peluang, dan kehormatan sosial.
“Adil itu cara membaginya, makmur itu isinya. Jangan sampai kekayaan, kesempatan, dan privilege hanya berputar di kelompok tertentu,” ujarnya.
Yudi Latif menekankan peran agama sebagai sumber inspirasi untuk inovasi, kreativitas, dan etos memakmurkan kehidupan. Ia menyoroti pentingnya pengembangan wakaf produktif dan trust fund untuk mendukung ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana pernah menjadi tradisi besar dalam peradaban Islam.
“Etos kekhalifahan itu harus memakmurkan, bukan merusak. Agama harus menjadi sumber energi moral dan intelektual untuk membangun umat masa depan,” pungkasnya.