Pekanbaru (Humas) – Saya senang sekali melihat Melayu. Budaya Melayu yang maritim (maritime culture) itu adalah budaya yang paling tepat mewadahi Islam. Budaya Arab, mohon maaf, adalah budaya continental. Budaya maritim itu beda dengan budaya continental. Ciri-ciri budaya daratan itu adalah stratificated society (masyarakat berkelas) sedang budaya maritim adalah budaya non stratificated society (masyarakat tidak berkasta).
Hal itu disampaikan Prof DR Nasaruddin Umar MA, Wakil Menteri Agama RI saat pertemuan dengan tokoh lintas agama di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Riau, Sabtu (7/11). Kegiatan ini dihadiri Drs H Tarmizi Tohor MA, Kakanwil Kemenag Provinsi Riau dan beberapa mantan Kakanwil Kemenag Provisnsi Riau serta beberapa pejabat kanwil Kemenag dan pegawai Kanwil Kemenag Provinsi Riau.
Lebih lanjut Wamenag berharap provinsi Riau bisa ditiru oleh provinsi lain. “Saya titip betul Pak Kanwil, contoh kerukunan umat beragama itu di Riau ini. Coba lihat, bulenya banyak. Ada kulit hitam dan putihnya di sini, ada berbagai etnik, seperti Jawa, Bugis, Batak, Minang, Nias, Melayu dan lain sebagainya. Ada macam-macam di sini. Tapi Riau sampai saat ini termasuk zona aman, dan hampir tanpa kasus. Terima kasih masyarakat Riau yang betul-betul mampu menampilkan suatu keutuhan. Di Riau ini masing-masing umat mampu beribadah dengan khusyuk,” lanjut Wamen.
Lebih jauh Prof Nasaruddin memaparkan bahwa di salah-satu tempat di Indonesia ini tak pernah aman karena mereka terlampau sibuk mengurus urusan Tuhan. “Dari dulu Syiah sudah ada di Indonesia. Malah sebelum merdeka. Tapi tak ada masalah. Sejak dulu Syiah di Indonesia kooperatif dengan Sunni. Belakangan ada Iranisasi Syiah di Indonesia. Sejak dulu Ahmadiyah di Indonesia tidak menimbulkan persoalan. Belakangan muncul Pakistanisasi Ahmadiyah di Indonesia. Sejak dulu Wahabi ada di Indonesia tapi sekarang ada Saudiarabiasasi Salafiyah di Indonesia. Untuk itu perlu ada re-Indonesiasasi pemahaman keagamaan kita di Indonesia. Ini diperuntukkan bagi semua agama,”kata Prof Nasaruddin.
Kata Wamen lagi, semua agama yang masuk ke Indonesia mengalami proses keindonesiaan yang sangat enak. Jadi, bisa berjumpa dalam bingkai keindonesiaan. Tapi pasca reformasi, ikatan-ikatan itu seolah putus. “Kita kehilangan tokoh-tokoh idola. Islam di Indonesia ‘kan tidak mesti berwajah Arab, berpakaian Arab. Kita bisa menjadi Melayu tapi the best muslim juga. Ibu-bu yang sudah berjilbab jangan dipaksa lagi bercadar. Seolah-olah kalau tak bercadar tak Islam. Sejak kapan cadar itu menjadi pakaian muslim. Itu pakaian adat Syiria dan Irak. Bedor itu artinya kelambu. Malah tidak syah haji orang menutup muka. Di padang Arafah, perempuan yang bercadar dikejar-kejar itu. Syarat syah haji harus membuka muka. Tidak syah haji kalau bercadar” lanjut Wamen.
“Jangan syariat dilanggar. Tapi kalau bercadar itu pilihan dalam hidupnya, jangan dilarang. Itu hak asasi choicenya orang. Orang mau pakai begitu jangan pula dilarang,” kata Rektor IIQ Jakarta ini.Kemudian penulis artikel pada berbagai media nasional ini mengingatkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap tokoh agama amat besar. “Masyarakat maunya kita seperti malaikat. Nggak pernah salah. Padahal kita manusia biasa. Lalu apa yang mesti kita lakukan? Memilih menjadi tokoh agama bukan menempatkan diri kita sebagai tokoh politik. Agamawan tidak boleh seperti itu. Ibda’ binafsik. Mulailah dari diri sendiri. Diri kita sempurna. Di sini ada nabatiyahnya. Ada hewaniyahnya. Tapi bungkus terdalamnya adalah insaniyahnya, terutama ruhaniyyahnya. Wanafakhtum min ruhihi. Inilah yang membuat manusia itu istimewa hingga semua makhluk sujud kepada manusia. Apapun yang kita lakukan harusnya menginternalisasikan Tuhan dalam diri kita,” kata lelaki yang menyebut Riau sebagai negeri keduanya setelah Makassar ini.
Pada kesempatan itu Drs H Tarmizi Tohor MA, Kakanwil Kemenag Provinsi Riau mengucapkan terima kasih kepada Wakil Menteri Agama yang sempat berkunjung ke Provinsi Riau. Kakanwil berharap semua hadirin mengambil pelajaran yang amat berharga dari pesan-pesan Prof DR H Nasaruddin Umar MA tersebut. (ghp)