Rokan Hilir (inmas) - Setelah kemarin, Kamis (18/1/2018) Seksi Bimas Islam Kantor Kemenag Rohil membentuk susunan kepengurusan Kelompok Kerja Penyuluh (POKJALUH) Agama Islam, Jumat (19/1/2018) Kepala Kankemenag Rohil H. Agustiar langsung meng-SK-kan dan mengukuh pengurus POKJALUH masa khidmat 2018 - 2022 di lantai dua Aula Kantor Kemenag Rohil.
Nama-nama pengurus POKJALUH Agama Islam Kemenag Rohil yang dilantik sebagaimana telah diberitakan sebelaumnya adalah Ustadzah Dra. Hj. Siti Samiati terpilih sebagai Ketua, H. Tarmizi, S.HI sebagai Wakil Ketua, sebagai Sekretaris Ngabdi, S.Ag,ย Wakil Sekretaris Inasri S.Pd.I danย Murniati, S.Pd.I sebagai bendahara.
Sementara Bidang publikasi dakwah dan pengembangan SDM dikoordinatori oleh Syahrul Hisyam, S.Sos.I dengan beranggotakan Junaidi Dasril, S.Pd.I, Ririn Hanifah, S.Fi dan Andi Asmara Siregar, Bidang sosial Kemasyarakatan diketuai Yusmonra, S.Ag dengan anggota Annasri, S.Pd.I, Ruslinda, S.Pd.I dan Dra. Fadillah, Koordinator Bidang Tamaddun/ Budaya Maruddin dengan anggota H. Salam, S.Ag, Syahruri, S.Pd.I dan Syakroni, S.Pd.I dan Bidang pemberdayaan ekonomi ummat diketuai oleh H. Syafruddin Naim dengan anggota Sri Hayati, S.Pd.I, Muzafar, S.Pd.I dan Sri Rezeki.
Usai pengukuhan, Kakan Kemenag Rohil H. Agustiar dalam sambutannya menekankan agar aktivitas POKJALUH yang digawangi Oleh Dra. Hj. Siti Samiati dan kawan-kawan harus mampu mendukung kegiatan dan kinerja Penyuluh. Sebagai ujung tombak Kementerin Agama, Penyuluh harus memiliki kompetensi yang mumpuni, selain memahami keagamaan juga melek teknologi. Penyuluh juga harus mengembangkan profesionalisme pelaksanaan tugas Penyuluh di lingkungannya.
Selain itu Penyuluh juga harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Jalinan komunikasi yang baik antara sesama pengurus POKJALUH, pengurus dengan anggota POKJALUH, POKJALUH dengan Kementerian Agama selaku Instansi Pembina, POKJALUH dengan lembag-lembaga lintas sektoral dan POKJALUH dengan kalangan media. Langkah-langkah ini diambil agar membuka sekat-sekat kecurigaan yang tidak perlu. Dan pada gilirannya kemudian bisa menimbulkan kesepahaman yang membawa kemaslahatan bersama.
Kemudian H. Agustiar menambahkan, setelah POKJALUH ini terbentuk jangan Tuktok (setelah dibentuk lalu ontok). Tuktok ini singkatan yang Kakan Kemenag gunakan yang menggambarkan suatu organisasi yang dibentuk tapi tidak melakukan gembrakan apa-apa. Oleh karena itu disini diperlukan pengurus yang tangguh dalam memperjuangkan aspirasi kebutuhan para penyuluh. Di sinilah kualitas kepemimpinan (leadership) seorang pemimpin (leader) diuji. Hanya pemimpin yang mampu melakukan harmonisasi aneka ragam perasaan, pikiran, keinginan, dan kepentingan manusia-manusia dalam organisasi tersebut yang akan banyak berhasil.
"Selamat berjuang para pengurus POKJALUH dan para Penyuluh Agama Islam, ummat menunggu kiprah kalian," pungkas H. Agustiar. (Nsh)