Kuansing (Inmas) – Secara etimologi, jurnalistik itu terdiri dari dua kata, yaitu Jurnal dan Istik. Jurnal berarti catatan harian. Istik bermakna estetika atau seni. Jadi, secara sederhana, jurnalistik merupakan seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat dan prilaku khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya.
Hal itu disampaikan Griven H Putera saat menyajikan materi pada Pembinaan Jurnalistik yang dilaksanakan Kemenag Kuansing di aula Kemenag, Teluk Kuantan, Selasa (1/12).
“Supaya tulisan berupa berita, opini dan lain dibaca khalayak, maka tulislah semua informasi itu dengan seni, dengan estetika atau dengan indah karena semua manusia menyukai keindahan,” kata Griven di hadapan 40 peserta yang terdiri dan guru dan pegawai di lingkungan Kemenag Kuansing.
Lebih jauh Griven menjelaskan bahwa untuk menulis sebuah berita, baik di website, di majalah dan koran atau di media mana saja, konsep dasar 5 W + 1 H mesti ada dalam menyajikan sebuah informasi. Di samping itu, Griven juga menganjurkan setiap pewarta harus mempunyai Kamus Bahasa Indonesia dan menguasai EYD atau ejaan yang disempurnakan.
Selain itu, Griven berharap kepada calon pewarta Kemenag Kuansing tersebut agar menyajikan berita dengan kata yang hemat dan jelas.
“Sampaikan informasi Kementerian Agama ini dalam bentuk berita dengan kata-kata yang hemat dan jelas agar mudah dipahami oleh pembaca. Jika membuat berita bertele-tele, tak jelas mana subjeknya, mana prediket, objek dan kata keterangannya maka berita tersebut akan ditinggalkan pembaca. Apalagi sekarang zaman gadjet,” ungkap Griven.
“Jadi, buatlah berita tersebut dengan singkat dan padat agar mudah dibaca di dunia maya. Untuk itu, bahasa yang digunakan jurnalis di website tidak sama dengan di koran atau majalah. Bahasa di website betul-betul hemat dan jelas tapi tentu saja tidak mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalistik,” kata Griven.
Pada kesempatan itu, Griven H Putera yang merupakan sastrawan Riau yang karyanya sudah dimuat pada beberapa Koran Nasional tersebut juga mengingatkan calon pewarta agar memperhatikan foto sebuah berita. “Foto jangan diabaikan. Foto yang baik itu juga mampu membawa pesan kepada pembaca. Untuk itu, memperdalam ilmu fotografi juga penting bagi seorang calon wartawan,” jelas Griven.
Pada kesempatan itu Griven juga menyampaikan agar pelatihan jurnalistik ke depannya perlu mendapat waktu yang banyak.
Pada Orientasai Juranlistik yang berlangsung di Kemenag Kuansing tersebut, Selain Griven H Putera, tampil juga Kasubbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Riau H Darwison yang menyajikan makalah berjudul Optimalisasi Tugas dan Fungsi Kehumasan Kementerian Agama. Selain pembicara dari kanwil Kemenag Riau tersebut, tampil juga sebagai pemateri, Kakankemenag Kuansing H Erizon Efendi dan Kasubbag TU Kemenag Kuansing H Armadis. (ghp)