0 menit baca 0 %

Trilogi Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Sikapi Tahun Politik

Ringkasan: Inmas (Riau)- Bertempat di Hotel Dafam Pekanbaru, Dra.hj. Rosnimar selaku Ketua Pengurus DWP Kanwil Kemenag Riau menyampaikan ucapan terimakasih kepada utusan kanwil kementerian agama Riau, utusan dari 12 kota/kabupaten se- provinsi Riau pada kegiatan Kampanye Hidup Rukun di Ruang Publik, Selasa (27...

Inmas (Riau)- Bertempat di Hotel Dafam Pekanbaru, Dra.hj. Rosnimar selaku Ketua Pengurus DWP Kanwil Kemenag Riau menyampaikan ucapan terimakasih kepada utusan kanwil kementerian agama Riau, utusan dari 12 kota/kabupaten se- provinsi Riau pada kegiatan Kampanye Hidup Rukun di Ruang Publik, Selasa (27/02) malam.

Istri Plt. Kanwil Kemenag Riau itu mengatakan bahwa peranan perempuan dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama diantaranya sebagai pemberi inspirasi, ibu adalah tiang negara. Maju mundurnya suatu negara tidak terlepas dari peran ibu sebagai inspirasi perubahan. 

Ia juga menambahkan bahwa ada beberapa hal yang sebelumnya perlu kita pahami yakni perihal kerukunan itu sendiri. “Kerukunan adalah sikap saling menghormati dan menjaga ketertiban dalam masyarakat, bernegara untuk  menciptakan kehidupan bersama atas dasar perbedaan-perbedaan yang ada. Baik perbedaan agama, politik, sosial, budaya dsb.” Imbuhnya. Kemudian Ia menuturkan bahwa perbedaan perbedaan harus kita toleransikan agar dapat menjalani kehidupan bersama. Karena tidak manusia yang sama, sebagai guru biologi Ia memahami bahwa tidak ada individu yang sama bahkan org kembar sekalipun. Baik dari segi fisik maupun pemikirannya.

“Sebagaimana kita dibesarkan oleh ayah dan ibu yang sama, tempat yg sama, didikan yg sama, tp pemikirannya bisa beda, Namun perbedaanlah yg menjadikan hidup bervariasi” terangnya.

Guru biologi itu menjabarkan 3 syarat yang harus dipenuhi agar kita bisa rukun dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Yaitu Kesediaan untuk menerima perbedaan dengan orang atau kelompok lain. Lebih lanjut dia mencontohkan bahwa Indonesia sdh mengakui 6 agama, Islam, katholik, protestan, hindu, budha, khonghucu. Dari segi budaya dan suku bangsa, juga ada ribuan perbedaan. Kenyataan ini harus diterima sebagai perbedaan.

“Syarat kedua adalah kita tidak hanya menerima perbedaan tapi juga kita bersedia memberi kesempatan untuk menemukan apa yang berbeda tadi sesuai batas batas toleransi dan aturan perundang-undangan yang berlaku”, imbuhnya. Terakhir Ia menandaskan bahwa Kemampun  untuk menerima perbedaan dan menjadikan perbedaan itu indah. Jangan sampai kita memaksakan keinginan dan keyakinan kita. Maka perlu adanya moderasi beragama. Ia juga mengingatkan agar kita menjalankan agama sesuai aturan. Tidak menjadi ekstrim kiri dan ekstrim kanan. 

Oleh karena itu ia menyatakan tentang perlunya dilaksanakan trilogi kerukunan yang mencakup 3 hal. Yakni Kerukunan antar intern  umat beragama. Atau Kerukunan antar pemeluk agama yang sama. Untuk itu, Rosnimar  meminta jangan lagi dipertentangkan perbedaan-perbedaan yang sudah ada sejak dulu. Misalnya shalat pakai doa qunut atau tidak. Kerukunan antar umat beragama. Kita harus bekerjasama dengan tetangga kita yang beda agama sesuai muamalat asal tidak mencampuradukkan aqidah.

“Sebagai contoh di NTB kerukunan umat beragama yang berbeda sudah terjalin dengan erat sekali. Meskipun umat non muslim lebih besar dari pada yang muslim. Pada saat Hari besar Islam dirayakan, Non muslim ikut serta mengambil peran sebagai pengaman. Begitu juga sebaliknya saat katolik merayakan hari besar agamanya umat muslim turut menjaga keamanan. Bahkan ikut menyediakan konsumsinya. Paparnya.

Kemudian ia meminta audiens mendukung program pemerintah yang sedang giat menciptakan kerukunan antar umat beragama.

“Apalagi ditahun politik ini masih ada sekelompok orang yang memancing terjadinya  ketidakrukunan dengan menyebarkan isu-isu sentimen”, sebutnya.

Rosnimar mengharapkan semua tokoh wanita yang hadir agar semuanya sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai istri harus mampu meredam ini.

Karenahasutan-hasutan itu selalu muncul dan dapat mengganggu kalau kita cepat percaya tanpa melakukan konfirmasi. Tanpa crosscheck tanpa menpertanyakan kembali.(vera/faj)