Meranti (Inmas)- Tito Hartoto SH. I memberikan Tausiyah Shubuh Keliling di Masjid Sabilunnajah Alahair Bersama Polres, bank riau Kepri dan bank Syariah Mandiri, Kamis (20/2/2020).
Dalam Tausiyah subuh kali ini dengan materi "Jika berpaling dari mengingat Allah Swt maka Allah akan memberi kehidupan yang sempit dan di bangkitkan dalam keadaan Buta"
Surat Qs. Thaha 124 yang Artinya : âDan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan butaâ. (QS Thaha [20] : 124).
Setiap manusia pasti ingin bahagia dan sukses. Sementara pemilik kebahagiaan dan kesuksesan adalah Allah SWT. Maka, dapatkah seseorang merengkuh kebahagiaan sejati dengan menjauh dan berpaling dari Allah rabbuâl âalamin.
Ayat (QS Thaha [20] : 124) tersebut menjelaskan betapa menderitanya kehidupan manusia yang jauh dari dzikrullah (mengingat Allah) dan berpaling dari ajaran-Nya.
Makna Berpaling dari dzikrullah (mengingat Allah), dalam ayat di atas, Allah mengancam orang-orang yang berpaling dari mengingat-Nya dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat.
Berpaling dari dzikrullah memiliki banyak makna. Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat tersebut adalah orang yang menentang perintah Allah dan menentang apa yang Allah turunkan kepada Rasu-Nya. Yaitu berpaling dari-Nya, berpura-pura lupa kepada-Nya dan mengambil selain petunjuk-Nya.
Termasuk juga, berpaling dan menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya yang terkandung dalam Al-Qurâan dan As-Sunnah. Meragukan validitas ajaran Allah dan Rasul-Nya, tidak mengimani universalitas dan integralitas agama Islam dan keberadaannya yang relevan untuk semua zaman dan tempat.
Bermakna juga orang yang mengimani sebagian isi Al-Qurâan dan mengkufuri sebagian yang lain, menentang, melawan dan memerangi orang-orang yang berjuang dan berdakwah untuk tegaknya ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan lain-lain.
Semua perbuatan, perilaku dan sikap tersebut dapat masuk dalam kategori âberpaling dari dzikrullahâ dan semua itu membawa pelakunya pada kehidupan yang sempit, nestapa dan sengsara di dunia dan akhirat.
Ancaman bagi Orang yang Berpaling dari Allah
Ada dua ancaman yang ditimpakan kepada manusia yang berpaling dari Allah, sebagaimana diterangkan dalam ayat di atas.
1. penghidupan yang sempit
Para ulama tafsir menjelaskan berbagai makna âmaâisyatan dhankaâ (penghidupan sempit) dalam ayat tersebut.
Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu âAnhu, maksud âpenghidupan yang sempitâ adalah kehidupan yang sengsara. Bahwasetiap kali Allah menganugerahkan sesuatu kepada seorang hamba, sedikit atau banyak, tapi tidak digunakan untuk takwa kepada-Nya, maka tidak akan pernah ada kebaikan di dalamnya, dan inilah maksud kesempitan dalam hidup.
Sementara menurut Imam Adh-Dhahhaak, Ikrimah dan Malik bin Dinar, yang dimaksud dengan âpenghidupan yang sempitâ adalah perbuatan buruk dan rezeki yang busuk.
2. Dihimpunkan pada hari kiamat dalam keadaan buta
Imam Mujahid, berpendapat, maksudnya adalah ia dihimpun pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah (argumentasi, ketika diminta pertanggungjawaban).
Menurut Ikrimah, maksudnya ia dibutakan atas segala sesuatu kecuali jahannam. Bisa juga bermakna ia dibutakan dari jalan ke surga dan keselamatan. Kemungkinan lain, maksud ayat tersebut adalah sesungguhnya ia akan dibangkitkan atau digiring ke neraka dalam keadaan buta mata dan buta hati.
Ibnu Abbas Radhiallaahu âAnhu berkata, âAllah telah menjamin orang yang membaca Al-Qurâan dan mengamalkan ajarannya tidak akan sesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhiratâ.
Untuk itu marilah raih kebahagiaan dengan taqwa insya Allah berkah dan jauh dari kesempitan dunia dan kesengsaraan akhirat. (Tito & Tim Inmas)