0 menit baca 0 %

Tips Menghadapi Idul Fitri (Bagian Pertama)

Ringkasan: Rokan Hulu (Inmas) – Apabila Idul Fitri sudah tiba, umat Islam diharuskan menyikapinya secara wajar dan sederhana sekalipun itu adalah hari kemenangan. Hari kemenangan, bukan berarti hari berhambur-hamburan, harus menghabiskan uang banyak, menyiapkan makanan yang banyak dan merayakannya secara...

Rokan Hulu (Inmas) – Apabila Idul Fitri sudah tiba, umat Islam diharuskan menyikapinya secara wajar dan sederhana sekalipun itu adalah hari kemenangan. Hari kemenangan, bukan berarti hari berhambur-hamburan, harus menghabiskan uang banyak, menyiapkan makanan yang banyak dan merayakannya secara berlebihan.

Hari kemenangan justru harus dibuktikan dengan penambahan iman kepada Allah SWT, sebagaimana hadis Nabi : Tidaklah hari raya itu bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi hari raya itu adalah bagi orang yang imannya bertambah dan atau meningkat.

Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA melalui press releasenya kepada sejumlah wartawan yang biasa meliput kegiatan Kemenag di kantornya, Jalan Ikhlas Kompleks Perkantoran Pemerintah, kota Pasir Pengaraian, Selasa (5/7/2016).

Dikatakannya, bertambah dan meningkatnya iman tersebut, dapat dibuktikan dengan hal-hal sebagai berikut :

Pertama, bermaaf-maafan antara satu sama lain dari segala noda dan dosa yang diperbuat selama ini, baik yang disengaja maupun tidak. Sehingga segala noda dan dosa yang berkaitan dengan sesama manusia dan barang kali belum terhapus dengan puasa, akan terhapus semuanya sehingga nilai kefitrian yang kita raih akan mencapai derajat kefitrian tertinggi.

Perlu diketahui, bahwa bermaaf-maafan hanya dapat menghapus dosa kecil dan bersifat non materi, sedangkan dosa besar dan yang bersifat materi tidak dapat dihapuskan dengan bermaaf-maafan atau bersalam-salaman. Penghapusannya hanya dapat dilakukan dengan mengembalikan atau membayarkan materi tersebut.

Kedua, menjalin persaudaraan diantara sesama, barangkali selama ini ada hal-hal yang dilakukan yang menyebabkan putusnya hubungan silaturahim. Sehingga dengan demikian, tali yang kusut dan bahkan putus selama ini, akan terajut kembali secara apik dan mesra.

Silaturrahim berasal dari dua kata, yaitu silah dan rahim. Silah artinya adalah hubungan, sedangkan rahim artinya adalah tempat lahirnya bayi. Hal ini menunjukkan, bahwa hubungan antara umat manusia itu bukan hanya satu nasab, tetapi umat manusia berasal dari satu tempat lahir. Hubungan satu tempat lahir inilah yang harus dipupuk dan dikembangkan, sehingga terjalin ukhuwah islamiyah yang sangat kukuh.Ash