Ketiga, saling membantu dan menolong di antara sesama kaum muslim yang diwujudkan dalam bentuk pemberian zakat fitrah dan bahkan zakat maal yang telah ditunaikan sebelumnya. Sehingga dengan demikian tidak ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang menangis sedih pada masa idul fitri ini, sebagai akibat dari tidak dipunyainya makanan dan kebutuhan pokok lainnya pada hari raya itu.
Membantu dan menolong sesama adalah perintah Allah SWT, sesuai firmanNya : Bertolong-tolonganlah kamu dalam hal kebaikan dan taqwa dan jangan bertolong-tolongan dalam hal kejahatan dan permusuhan.
Keempat, menyiapkan sedekah secara wajar, dengan memberikan infaq atau sadaqah berupa uang dan atau makanan kepada setiap yang bersilaturrahim kerumah kita, sehingga menambah pundi-pundi Tabungan amal shaleh kampung akhirat (Taska) kita sebagai bekal dihari kemudian.
Harta, istri dan anak, semuanya akan ditinggalkan di dunia ini, Hanya amal shalehlah yang akan kita bawa ke liang kubur, untuk selanjutnya memasuki alam akhirat.
Kelima, menghindari perbuatan-perbuatan yang akan merusak derajat muttaqin dan mengotori kefitrian, yang telah kita raih selama bulan Ramadhan dengan melaksanakan ibadah puasa, yang menyebabkan diri tercoreng oleh noda dan dosa.
Bila hal ini terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kita akan terkena imbas sesuai kata pepatah, “Gara-gara Nila setitik, rusuk susu sebelanga“. Dengan demikian, diharapkan kita menjadi orang yang muttaqin, baik di saat sedang berpuasa maupun sesudah berpuasa.
Keenam, mempertahankan derajat muttaqien, baik selama bulan Ramadhan maupun pasca ramadhan, yang dibuktikan dengan mempertahankan amaliah ramadhan, seperti rajin baca Al-Qur’an, rajin ke masjid, rajin sholat malam, mampu mengendalikan diri, peduli kepada fakir miskin, membayar zakat, banyak berinfaq/shodaqah, dan lain sebagainya.*Ash*