0 menit baca 0 %

Tingkatkan Kesadaran Produk Halal, LPPOM MUI Gandeng Kemenag Riau

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas)- Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Provinsi Riau melakukan kunjungan dan silaturrahim mengenai produk halal ke Kanwil Kemenag Riau, Jumat (1702/2017). Kedatangan rombongan tim LPPOM MUI disambut langsung oleh Kakanwil Kemenag R...

Pekanbaru (Inmas)- Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Provinsi Riau melakukan kunjungan dan silaturrahim mengenai produk halal ke Kanwil Kemenag Riau, Jumat (1702/2017).

Kedatangan rombongan tim LPPOM MUI disambut langsung oleh Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA didampingi Kabid Urais dan Binsyar Drs H Irhas, Kabid Penaiszawa HM Saman S Sos M Si, Kabid Pakis Fairus MA, Kasi Produk Halal Dra Hj Nurmala, dan Kasi- kasi bidang urais.

Direktur LPPOM MUI Riau, Dr Sofia Anita M Sc, dalam sambutannya menyebutkan, selain untuk bersilaturrahim dengan Kemenag Riau, LPPOM MUI Riau berupaya menjalin kerjasama dengan pemerintah melalui Kemenag dalam mewujudkan masyarakat yang peduli produk halal. Jika memungkinkan LPPOM MUI akan melakukan sosialisasi ke madrasah- madrasah dan pondok pesantren dibawah naungan Kemenag.

"Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh LPPOM MUI Riau saat ini, selain kantor yang masih menumpang dengan MUI, sarana dan prasana laboratorium juga masih terbatas, sehingga saat melakukan penelitian LPPOM MUI Riau harus ke UIN atau Universitar Riau. Selain itu, sosialisasi yang kita lakukan ke sekolah- sekolah khususnya sekolah umum juga sering ditolak oleh pihak sekolah," ungkapnya membuka pembicaraan.

Padahal, lanjut Sofia, masih banyak produk- produk atau jajanan sekolah yang subhat karena mengandung unsur- unsur B2, salah satu contoh yaitu bulu kuas yang digunakan penjual martabak, bahan kuas pemerah bibir, bahan sandal atau pepatu dan beberapa produk lainnya itu mengandung unsur subhat dalam agama Islam.

"Namun untuk melakukan sosialisasi sekola- sekolah masih cenderung tertutup. Dan untuk sosialisasi ke UKM yang ada di Riau, kita terkendala oleh dana karena letakknya terlalu jauh. Sementara kita hanya menggunakan dana independen," ujarnya.

Untuk itu, kerjasama dengan berbagai sector khususnya Kemenag sangat penting, untuk mempermudah sosialisasi prosuk halal ke daerah- daerah. Apalagi dari sekita banyak home industry atau UKM di Riau yang mencapai 8 ribu unit, yang memiliki sertifikat halal belum mencapai 10 persen.

"Jangankan UKM atau home industry, hotel- hotel bintang saja hanya beberapa hotel yang memiliki sertikat hal, kita sudah melakukan penelitian, namun hotel- hotel masih juga belum melakukan upaya sertifikasi halal. Bahkan ada beberapa hotel yang kita tolak, karena memang dapurnya bergabung, sehingga tidak ada pemilah yang halal dan haram," jelasnya.

Terhadap kondisi tersebut, Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA, Kemenag sangat berkepentingan dalam hal produk halal. Untuk itu, ia sangat mengapresiasi rencana sinergitas LPPOM MUI dengan Kemenag Riau dalam rangka melakukan sosialisasi produk halal di semua sector.

"Kita akan menindaklanjuti hal ini, termasuk menjadwalkannya  khususnya dengan bidang Pakis yang membidangi pendidikan agama. Umat harus kita selamatkan dari produk halal, karena jangankan masyarakat, saya pribadi saja banyak produk- produk yang subhat yang tidak saya ketahui, seperti beberapa contoh yang disampaikan tadi," ucapnya.

Untuk itu, Kemenag Riau akan mendukung program LPPOM MUI Riau untuk sama- sama mensosialisasikan produk halal ke umat, khususnya melalui lembaga keagamaan, dan lembaga pendidikan, sehingga masyarakat sadar produk halal.  (mus/ipad)