0 menit baca 0 %

Tinggalkan Masa Kelam KUA dengan Kegiatan Peningkatan Kompetensi Penghulu

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) - Penghulu sebagai unsur terdepan, ujung tombak, dan jari manis bagi Kementerian Agama RI memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan citra terbaik bagi Kementerian Agama RI. Begitulah awal pembukaan yang terdapat dalam laporan Ketua Panitia Kegiatan Peningkatan Kompetensi...

Pekanbaru (Inmas) - Penghulu sebagai unsur terdepan, ujung tombak, dan jari manis bagi Kementerian Agama RI memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan citra terbaik bagi Kementerian Agama RI. Begitulah awal pembukaan yang terdapat dalam laporan Ketua Panitia Kegiatan Peningkatan Kompetensi dan Budaya Kerja Penghulu dan P3N Provinsi Riau Tahun 2017 yang ditaja oleh Bimas Islam Kemenag RI pada Hari Kamis, (27/4), di Hotel Premier, Pekanbaru.

Pembacaan Laporan Panitia oleh Ketua Panitia, Drs. H. Zainal Mutaqqin, MA yang merupakan Kasubdit Kepenghuluan Bimas Islam mengungkapkan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi penghulu dan P3N yang berintegrasi dan amanah sesuai dengan 5 Budaya Kerja Kementerian Agama RI.

"Penghulu adalah jabatan fungsional tertentu yang ditugaskan dan diberi tanggung jawab dalam hal nikah dan rujuk bagi masyarakat sehingga mampu memberikan pelayanan prima yang akurat, cepat dan akuntabel," papar Zainal Mutaqqin.

Beliau juga menambahkan bahwa terselenggaranya kegiatan ini berdasarkan anggaran yang terdapat pada DIPA TA 2017 dan mengundang penghulu yang terdapat pada KUA di provinsi Riau beserta petugas P3N yang berjumlah 60 orang.

Tujuan yang diutarakan pada laporan panitia tersebut dibenarkan oleh Dirjen Bimas Islam, Dr. H. Mohsen, MM, pada pengarahannya yang mempertegaskan bahwa tantangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan informasi dalam bidang agama dan keagamaan sangat tinggi maka sangat diperlukan peningkatan mutu penghulu dalam menjawab tantangan yang ada.

"Tidak hanya itu saja Bimas Islam juga saat ini sedang memperbaiki struktur organisasi dari mulai atas sampai bawah akan ada struktur yang baru sehingga kita juga memerlukan komitmen baru untuk memperteguh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan prima dan baik sesuai kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis," papar Mohsen.

Pada kesempatan yang sama, Mohsen juga menegaskan bahwa 5 Budaya Kerja Kementerian Agama sudah mewakili dari sikap dan prilaku kerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan Budaya Kerja ini bukan hanya sebagai slogan yang kita hapal dan sebut seperti awal acara tadi tapi harus kita pahami dan hayati serta diamalkan pada kinerja sehari-hari.

"Saya berharap dengan adanya kegiatan ini, kesadaran kolektif kita semua akan meningkat dalam mengamalkan 5 budaya kerja Kementerian Agama sehingga komitmen ini tidak hanya sebatas pernyataan tetapi harus menjadi kenyataan bahwa wibawa Kementerian Agama akan terus kita jaga dalam berprilaku melayani masyarakat," harap mohsen sebagai penutup pengarahan dan langsung membuka kegiatan ini dengan resmi. (nvm)