Riau (Inmas) -Setiap umat muslim pasti ingin mengunjungi tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.
Namun tidak semua orang dapat melaksanakannya dengan mudah. Faktor biaya menjadi kendala salah satunya.
Pasangan suami istri asal Sorek II Kabupaten Pelalawan, Kamaruddin Binti Bujal (64) dan Mayung Binti Paman (57), merasa bersyukur dan berbahagia karena tahun ini mereka akan berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah dari hasil bertani karet.
Ditemui di kamarnya di Asrama Haji Antara Riau Kamarudin menyebutkan, dirinya tak menduga akan dipanggil namanya bersama istri untuk menunaikan ibadah haji tahun ini.
Lelaki paruh baya yang sehari-hari berprofesi sebagai penakik karet ini, selangkah lagi mewujudkan impian menunaikan ibadah haji setelah bertahun-tahun menyisihkan uang hasil jerih payahnya sedikit demi sedikit setiap kali panen karet.
Bapak yang kini berusia 64 tahun itu, tergabung bersama rombongan calon haji lainnya asal Kabupaten Pelalawan dalam kelompok terbang (Kloter) 9 Embarkasi Haji Antara Riau.
Kloter 9 ini sesuai agenda, pada Jumat (12/07) pagi tadi memasuki Asrama Haji Antara Riau, untuk kemudian berangkat ke Tanah Suci melalui Bandara Hang Nadim Batam, Sabtu (13/7/2019) besok pagi sekitar pukul 10.00 WIB.
"Naik haji sudah menjadi cita-cita saya sejak lama, hasil panen karet yang tidak seberapa saya niatkan untuk berhaji dengan istri”, ucapnya dengan bahasa daerahnya yang sangat kental.
“Maaf Bu saya tidak bisa berbahasa Indonesia, semoga ibu paham apa yang saya sampaikan, ucapnya mengejutkan penulis.
Sejak belasan tahun yang lalu, Kamarudin mengaku kerap berdoa agar cita citanya naik haji kesampaian. “Setiap kali ke masjid, saya berdoa, agar dimudahkan niat saya menunaikan rukun kelima dalam Islam ini”, ucapnya.
Ia mengaku menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, sempat mengalami kecelakaan, empat tahun yang lalu, Ia ditabrak motor saat pergi ke masjid sholat lima waktu. Sejak itu, dia mengaku sering mengalami pusing kepala dan kepala berat.
“Pernah saya coba periksa ke dokter setelah dirawat selama enam hari di rumah sakit Pangkalan Kerinci, namun kata dokternya tidak ada apa apa”, lanjutnya.Â
Dia mengenang, sebelum menderita penyakit kepala berat pusing dan sakit asam urat, rutinitasnya tidak terganggu, menakik karet saat cuaca cerah dan tidak hujan.
”Sekarang kadang suka datang tiba tiba sakitnya, terasa berat saja kepala saya”, ungkapnya.
Perjalanan sebagai petani karet memang tidak selalu mulus dialami olehnya. Terbukti saat ia bercerita bahwa kedua putrinya tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kekurangan biaya.Â
“Kadang dapat banyak, kadang tidak sama sekali, ujarnya.
“Saat ini anak saya dua duanya sudah menikah, yang satu namanya Hamidar sekolah cuma sampai SD, sudah punya anak dua, yang satu lagi namanya Irawati hanya sampai SMP bersekolah, sekarang sudah punya dua anak juga”, terangnya melanjutkan cerita.Â
Ia berharap cucu cucunya kelak bisa mencicipi bangku sekolah yang tinggi, harap Kakek empat cucu ini. “Yang penting ada niat dan keyakinan insyaallah Allah kasihkan jalan untuk kita”, imbuh Dia.
Duka yang saya paling ingat sebagai petani karet itu saat harga karet anjlok turun, sementara saya tidak punya usaha lain selain bertani.
 “Terlebih lagi saat hujan turun saya sama sekali tidak bisa menarik karet, dan saat itu harga karet sudah turun hanya 8 ribu perkilonya, sehingga untuk makan sehari hari pun terasa susah” kenangnya.
“Kalau sedang banyak, saya bisa dapat 5 juta per dua Minggu dari jual karet ini ke toke, tapi kalau sedang hujan sama sekali tidak ada penghasilan”, katanya.
Sarana yang dikendarainya untuk membawa hasil karetnya adalah gerobak dorong dari kayu untuk menyimpan hasil karetnya ke pengumpul karet disewanya.
Hasil penjualan karet yang dikumpulkannya, disisihkan selalu setiap kali panen atau setiap hari saat panen, yang kemudian disimpan di lemari rumahnya.
Kamarudin masih mengingat sebelum tahun 2011 saat sudah mendaftar haji, uang simpanannya terkumpul 25 juta, tinggal mencari tambahnya saja untuk istri.
Saat itu, biaya pendaftaran haji sekitar Rp 25,5 juta. Sisa kekurangannya menggunakan dana talangan dari bank yang dijamin oleh pemilik KBIH. “Totalnya saya dengan istri saat itu kena 51 juta berdua” katanya. "Kami sudah menabung jauh sebelum mendaftar haji tahun 2011 itu, sebutnya.
Bapak dua putri ini mengaku istrinya juga mengalami sakit di bagian lengan kanan hingga kini. “Istri saya pernah jatuh dikamar mandi, saya tahunya saat pintu kamar mandi tidak terbuka, sudah saya gedor gedor tapi tidak ada jawaban sama sekali, rupanya istri saya sudah pingsan didalam kamar mandi”, katanya.
Setelah dibawa ke dokter dan dirontgen, diketahui istri saya mengalami keretakan dibagian tulang lengan nya.”Sampai sekarang masih suka kambuh sakitnya, walau jauh berkurang”, katanya berkisah.
Saya berharap, kami istri dan dua adik kami bisa tetap diberikan kesehatan dan kemudahan selama di tanah suci dan kembali menjadi haji yang mabrur, katanya.
Dapat diinformasikan, pasangan suami istri ini berangkat dengan adik kandungnya dan adik ipar (suami dari adek perempuannya) yang juga sama sama sebagai petani karet.
Semoga doa saya untuk anak dan cucu dan seluruh keluarga nanti di tanah suci bisa saya panjatkan setiap kali menunaikan sholat disana, katanya.
"Saya sungguh bersyukur bisa berangkat bersama istri dan kedua adik saya", tandasnya mengakhiri bincang.(Vera)