Meranti (Inmas)- Syamsul Hidayat.S.Pd.I Isi Tausiyah Isra' Mi'raj di hadapan Ibu-ibu PKK Desa Mantiasa dengan tema " Hikmah Isra' Mi'raj", Ahad (15/3/2020).
Syamsul Hidayat menyatakan bahwa Hal pertama yang harus diperhatikan, "isra" merujuk perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem; sedangkan "mi’raj" merujuk peristiwa perjalanan Nabi Muhammad ke langit untuk mendapatkan perintah salat lima waktu.
Yahid melanjutkan bahwa Penyebutan bebarengan “isra mi’raj” menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi dalam satu waktu. Secara politis, peristiwa isra adalah upaya rekonsiliasi sejarah asal-usul agama Islam.Â
Sebab, “kunjungan” Nabi Muhammad ke Yerusalem bisa dipandang sebagai upaya “merapatnya” agama Islam pada bentuk monoteisme/ketauhidan yang juga diajarkan oleh agama Yahudi. Agama yang jauh lebih tua daripada agama kepercayaan milik suku Quraisy yang saat itu sangat mengancam keberlangsungan Islam.
Dengan begitu, menegaskan watak monoteistik, Islam akan dipersonifikasikan sebagai agama yang punya riwayat panjang yang berakar dalam tradisi tua. Hal ini juga memberi batasan bahwa ada perbedaan antara yang disembah kaum kafir Quraisy dengan apa yang disembah oleh umat Islam.
Seperti diketahui, pada masa awal persebaran Islam di Mekah, Ka’bah dikelilingi oleh ratusan berhala yang mengakibatkan akar kepercayaan soal ketauhidan (keesaan Tuhan) yang dibentuk Nabi Ibrahim menjadi tak terlihat lagi. Dua putra Nabi Ibrahim, Ismail dan Ishak, menjadi leluhur dua agama monoteistik ini terpisah secara geografis, kebudayaan, dan bahasa.
Nabi Ismail yang menjadi nenek moyang para penghuni kota Mekah, kemudian memunculkan sosok Nabi Muhammad dengan agama berbahasa Arab. Sedangkan Nabi Ishak dalam perkembangannya kemudian melahirkan seluruh nabi-nabi Yahudi, termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa (Yesus dalam agama Kristen), dengan agama berbahasa Ibrani.
Pada waktu itu, pusat keagamaan suku Quraisy adalah Kabah dengan berbagai berhala di sekelilingnya. Jika Islam menjadikan Kabah sebagai kiblat salat di periode setelah isra mi'raj, maka perbedaan antara kaum kafir dengan kaum muslim tidak akan terlihat begitu jauh. Secara politik, hal ini memunculkan anggapan bahwa Islam hanyalah jenis kepercayaan yang tidak jauh berbeda dengan agama nenek moyang suku Quraisy. Itulah yang menjadi jawaban mengapa arah kiblat salat mulanya diperintahkan untuk tidak mengarah ke Kabah. Hal ini agar menjadi penegasan secara gamblang bahwa Islam lahir dengan perbedaan yang jelas dari agama suku Quraisy.
Peristiwa ini kemudian berhubungan dengan peristiwa hijrah yang menjadi tanda bahwa Nabi Muhammad tidak lagi terlalu memaksakan Kabah, juga Mekah, sebagai pusat syiar Islam pada era itu. Dan bagi kaum kafir Quraisy, ini adalah pukulan telak yang secara psikologis mencederai mereka.
Secara bertahap, hijrah ini kemudian jadi latar belakang peperangan antara kaum Muslim dengan kaum Quraisy. Dari Perang Badar, Perang Uhud, sampai Perang Khandak yang diwarnai oleh pengkhianatan beberapa umat Yahudi di Madinah.
Di situlah kemudian, pada bulan Rajab, 12 tahun setelah peristiwa hijrah, muncul perintah Tuhan (surat Al Baqarah 142-145) untuk memalingkan arah kiblat salat dari Masjidil Aqsha, yang punya arti “masjid terjauh”, di Yerusalem ke Masjidil Haram di Mekah. Ayat yang kemudian menjadi sumber rujukan mengenai sejarah arah kiblat shalat yang sebelumnya ternyata pernah mengarah ke Yerusalem.
Seperti halnya alasan arah kiblat salat pertama kali ke arah Yerusalem, turunnya perintah ini juga punya konsekuensi politik. Bahwa Islam akhirnya “memisahkan” diri dari rumpun agama Yahudi, sekalipun memiliki jejak-jejaknya. Perpindahan ini menegaskan agama Islam berbeda dengan agama Yahudi, seperti halnya agama Islam berbeda dengan agama nenek moyang suku Quraisy. (Tim inmas)