Kuansing (Kemenag )Di aula SMPN?1 Inuman, semangat belajar Al?Qur’an mengalir tanpa sedikitpun rasa malu. Meskipun masih mengandalkan metode Iqra’, para siswa-siswi tampak percaya diri melantunkan ayat?ayat suci, seolah tidak ada batas antara “masih belajar” dan “sudah menguasai”. Kegiatan yang mengusung tema “Tidak ada rasa malu, meski belajar masih metode Iqra” ini menjadi bukti bahwa pendekatan tradisional tetap relevan bila disampaikan dengan dukungan penuh dari guru dan teman?teman.
Kepala Sekolah, menjelaskan bahwa metode Iqra’ dipilih karena terbukti efektif meningkatkan kemampuan membaca Al?Qur’an secara bertahap. “Metode ini menekankan latihan berulang, penguatan positif, dan pemecahan materi menjadi bagian?bagian kecil,” ujarnya,Dengan pola belajar yang terstruktur, siswa-siswi tidak hanya menghafal huruf, tetapi juga menginternalisasi tajwid secara alami.
Di sela?sela sesi, salah satu siswi,Sila mengungkapkan perasaannya: “Dulu saya takut salah mengucapkan huruf, tapi sekarang saya tidak lagi merasa malu. Teman?teman selalu memberi semangat, jadi saya berani membaca di depan kelas.” seorang guru selalu memberi pujian ketika mereka berhasil melantunkan ayat dengan benar, menciptakan lingkungan yang aman untuk berekspresi.
Metode iqra ini yang melibatkan seluruh siswa-siswi belajar ini membuat rasa malu semakin pudar, digantikan oleh rasa kebanggaan atas setiap langkah kecil yang dicapai.
Acara penutupan diakhiri dengan pembacaan yang berulang-ulang bersama dan pemberian suatu pujian kepada siswa yang telah memahami ilmu tajwid dalam metode Iqra’. Dengan senyum lebar, mereka sangat semangat untuk selalu belajar mengaji diaula, menunjukkan bahwa belajar Al?Qur’an tidak perlu menunggu “sempurna” yang penting adalah keberanian untuk terus mencoba, tanpa rasa malu.EF