0 menit baca 0 %

Tangis Haru Saat Tinggalkan Ka bah

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) – Sebanyak 499 Jemaah Haji Riau yang tergabung dalam kloter V sepanjang Senin (05/10) lakukan thawaf wada’ secara bergantian dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali sebelum kembali ke Tanah Air. Setelah meninggalkan Jeddah pada Selasa tengah malam salah sat...

Pekanbaru (Inmas) – Sebanyak 499 Jemaah Haji Riau yang tergabung dalam kloter V sepanjang Senin (05/10) lakukan thawaf wada’ secara bergantian dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali sebelum kembali ke Tanah Air. Setelah meninggalkan Jeddah pada Selasa tengah malam salah satu jamaah bernama H Amrullah yang sempat dirawat di RS Al Noor yang mengalami cedera kaki akhirnya ikut terbang juga.

Dari seluruh rangkaian prosesi ibadah haji Tawaf Wada’ merupakan anti klimaks dari 39 hari selama di Makkah. Maka saat Tawaf berlangsung rasa haru dan tangis jamaah tiba-tiba pecah. Tawaf Wada’ merupakan penghormatan terakhir dengan Masjidil Haram atau di sebut juga dengan Tawaf perpisahan. Dalam syari’at Islam sudah tertuang secara jelas bahwa sholat di Masjidil Haram pahalanya 100 ribu kali dibandingkan sholat ditempat lain.

“Berat berpisah dengan Masjidil Haram, ucap salah satu jamaah yang juga pegawai Universitas Riau ini. Sewaktu melakukan Tawaf saya merasakan sedih dan menangis, terlintas begitu saja di angan saya , seandainya bisa tiap tahun bisa kesana alangkah nikmatnya”, lanjut beliau. Sementara istrinya Hj Marlina SPd juga menimpali “Air mata saya tak terbendung usai berdo’a setelah melakukanTawaf. Papa coba lihatlah Ka’bah itu sekali lagi”, ujarnya seraya melambaikan tangan sebelum pulang. Tangis pun mengiringi langkah kami, ujarnya lagi.

Jamaah lainnya, H Nurmal juga merasakan hal yang sama “Ibo ati, kalua surang aie mato dek indak tatahan, ibu yang paling lamo managih ( Iba hati, keluar sendiri air mata karena tak tertahankan, Ibu yang paling lama menangis), jelasnya dengan logat khas Teluk Kuantan sembari di aminkan sang istri Hj Suriati salah satu Guru di SMPN 21.

Begitu juga dengan tiga orang dosen Universitas Riau Prof H Rasoel Hamidy bersama rekannya Prof H Thamrin dan Hj Teten Suparmi Msi serta Prof H Syafrani Rektor Unilak. Selain itu hal yang sama juga dirasakan H Nurizal beserta istri Hj Ermi Wijaya juga sulit untuk membendung air mata yang mengalir karena rasa haru yang begitu saja muncul, ungkapnya.

“Saya sedih meninggalkan Masjidil haram ungkap Hj Nurhayati teman Ermi yang juga ikut melakukan Tawaf, saya dan suami menangis, kebetulan saya berdo’a di Multazam, tempat berdo’a paling mustajab di Makkah, sungguh saat itu saya menangis dan berdoa agar cucu saya dipanggil ke Baitullah, terangnya dengan lirih. H Suwandi suaminya juga mengakui saat melambaikan tangan perpisahan ke arah Ka’bah benar-benar merasa merasa sedih karena harus berpisah dengan Tanah Haram. “Saat saya melakukan Tawaf air mata menetes begitu saja, seraya memandangi dinding Ka’bah nan hitam, saya amati ukiran ayat –ayat alquran dihiasi dengan kaligrafi yang sangat indah, barulah saya tinggalkan Baitullah yang kokoh berdiri itu. Saya benar- benar sedih dan terharu”, imbuhnya.

Sungguh sangat lumrah jika para jamaah merasa terharu begitu dalam, karena seluruh rangkaian ibadah haji sudah dituntaskan. Ditambah lagi dengan begitu banyak moment dan peristiwa getir yang terjadi pada haji tahun ini. Mulai dari peristiwa ambruknya crane (alat derek) di Masjidil Haram, kemudian terbakarnya kamar hotel jamah haji Indonesia, hingga tragedi tragis di Mina yang menewaskan sekitar seribu orang jamaah. Pun jemaah haji yang meninggal di Tanah Suci karena berbagai sebab. Tentu peristiwa ini menjadi memori tersendiri pada jamaah, dan sudah pasti akan membekas dalam sanubari masing-masing jamaah. Rasa syukur pun tak terhindar dari jamaah Riau yang diberi kesempatan untuk menunaikan Tawaf Wada’ ini. (vera)

 

*sumber: Tribun Pekanbaru