Meranti (Inmas)- Untuk mengoptimalkan tugas penyuluh, Penyuluh Non PNS Kemenag Kepulauam Meranti, Wilayah tugas Kecamatan Tebing tinggi barat, Syamsul Hidayat mengadakan pelatihan membaca al-Qur’an dengan metode Tilawati di Masjid Al-Istianah desa Tanjung, Ahad kemarin (15/3).
Metode membaca Al Qur’an pada saat ini sudah sangat berkembang dan beragam mulai dari metode Qiroati, Tilawati, Al Baghdadi, Iqro dan Yan-bu’a. Semua metode tersebut telah menunjukkan hasil yang menggambarkan kemudahan cara membaca Al Qur’an.
Menurut Syamsul Hidayat metode Tilawati adalah merupakan salah satu di antara metode pengajaran Al-Qur'an yang menawarkan suatu sistem pembelajaran Al-Qur'an yang yang mudah, efektif dan efesien demi mencapai kualitas bacaan, dan pemahamanan terhadap Al-Qur'an.
Selain itu, beliau juga mengungkapkan bahwa metode Tilawati menggabungkan metode pengajaran secara klasikal dan privat secara seimbang sehingga pengelolaan kelas lebih efektif serta dengan seni yang indah di dengar serta muda di terima peserta pelatihan.
Rosyikin juga menyampaikan tentang pentingnya membaca Alquran seperti ungkapan hadits Nabi Muhammad SAWÂ bahwa Mencari ilmu adalah dari buaian sampai ke liang lahat, Selama hayat masih dikandung badan tidak ada kata terlambat utk bisa membaca Al Quran.
“ Metode Tilawati ini penting dan menjadi cambuk bagi kami penyuluh Agama Islam Non PNS Kemenag Kepulauan Meranti untuk terus mengenalkan metode membaca Al-Qur'an dengan metode Tilawati”ungkapnya.
Kepala KUA Kecamatan Tebing Tinggi Barat Drs.H.Mukhlas menyampaikan bahwa kegiatan ini perlu di teruskan mengingat yang menjadi peserta didik bukan santri TPQ atau anak sekolahan tetapi para Penyuluh Agama dari berbagai desa di Kecamatan Tebing Tinggi Barat sehingga kedepan akan muncul komitmen mengajarkan Al Qur’an di masing-masing binaan.
Di samping itu, Mukhlas juga menegaskan penyuluh agama mempunyai peran penting dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus pemberdayaan dirinya sendiri sebagai insan yang berakhlakul kharimah.
Menurut beliau, Penyuluh adalah ujung tombak Kementerian Agama dalam melaksanakan penerangan Agama Islam di tengah pesatnya dinamika perkembangan masyarakat. Karena itu peran penyuluh sangat strategis dalam rangka membangun mental, moral, dan nilai ketaqwaan umat.
“Semoga keberkahan dari yang mengajarkan dan yang membaca bisa di dapatkan karena yang dikaji adalah Al Qur’an,” pungkas Mukhlas.
(Tim inmas)