0 menit baca 0 %

Syafwan: Early Warning System Penting untuk Menjaga Harmoni dan Mencegah Konflik Keagamaan

Ringkasan: Pelalawan(Kemenag) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan Drs. H. Syafwan, secara resmi membuka kegiatan Pengembangan Early Warning System (Sistem Deteksi Dini) Keagamaan yang mengusung tema Mewujudkan Ruang Keagamaan yang Aman dan Harmonis Berbasis Masyarakat , di Masjid Al-Azh...

Pelalawan(Kemenag) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan Drs. H. Syafwan, secara resmi membuka kegiatan Pengembangan Early Warning System (Sistem Deteksi Dini) Keagamaan yang mengusung tema “Mewujudkan Ruang Keagamaan yang Aman dan Harmonis Berbasis Masyarakat”, di Masjid Al-Azhiim, Kamis (4/12/2025).

Dalam sambutannya, Syafwan menekankan bahwa tantangan keagamaan dan dinamika sosial masyarakat saat ini memerlukan pendekatan yang aktif, sistematis, dan kolaboratif. Menurutnya, Early Warning System (EWS) merupakan langkah strategis untuk memperkuat kewaspadaan dini, mencegah potensi konflik, serta membangun harmoni umat melalui kerja sama lintas unsur masyarakat.

“EWS adalah kunci menjaga kerukunan. Penyuluh, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat harus enjadi barisan terdepan dalam mencegah potensi konflik sebelum membesar” ujar Syafwan.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama. Dr. Anda Citra Utama, SpPD menyampaikan materi berjudul “Strategi Penyuluh dan Tokoh Masyarakat dalam Mencegah Potensi Konflik dan Radikalisme”. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas aktor keagamaan dalam memahami pola konflik, menganalisis risiko, dan membangun komunikasi persuasif di tingkat komunitas.

Selanjutnya, H. Akmamul Hadi, S.Sos., M.Si. memaparkan materi “Membangun Deteksi Dini Keagamaan di Tingkat Desa dan Kelurahan” yang menyoroti pentingnya tata kelola jejaring informasi berbasis masyarakat, serta peran desa dan kelurahan sebagai titik awal penguatan ketahanan sosial dan keagamaan.

Syafwan berharap kegiatan ini tidak berhenti sebatas seremoni, tetapi benar-benar menjadi gerakan bersama dalam menjaga ketenteraman sosial. Menurutnya, perubahan sosial yang cepat menuntut masyarakat untuk adaptif, responsif, dan terbuka terhadap kolaborasi.

Kegiatan ini diikuti oleh penyuluh agama Islam, tokoh agama, tokoh adat, BKMT, serta perwakilan masyarakat yang secara aktif berdiskusi dan terlibat dalam pendalaman materi. Melalui kegiatan ini, Kemenag Pelalawan berharap lahir jejaring EWS yang mampu bekerja sinergis, serta menghadirkan ruang keagamaan yang aman, harmonis, dan inklusif di tengah masyarakat.(dbs)