0 menit baca 0 %

Subbag Humas & Info Kanwil Menag Riau Kunjungi Mesjid Langgam

Ringkasan: Pekanbaru – Humas Sub Bagian Humas dan Informasi Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau mengunjungi salah-satu mesjid unik di Kabupaten Pelalawan pada Selasa, 26/3. Kunjungan ini dalam rangka peliputan untuk rubrik mesjid pusaka di majalah Dinamis yang bertujuan memperkenalk...
Pekanbaru – Humas Sub Bagian Humas dan Informasi Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau mengunjungi salah-satu mesjid unik di Kabupaten Pelalawan pada Selasa, 26/3. Kunjungan ini dalam rangka peliputan untuk rubrik mesjid pusaka di majalah Dinamis yang bertujuan memperkenalkan salah-satu khazanah kebudayaan Melayu tersebut kepada khalayak. Hal itu disampaikan H. Mansyur, S.Ag, Kepala Sub Bagian Humas dan Informasi Kanwil Kemenag Riau di Pekanbaru, 27/3. “Mesjid yang kami kunjungi ini adalah mesjid Nurul Islam, Langgam. Salah-satu keunikan mesjid ini karena terletak pas di bibir tebing sungai. Secara logika, mesjid ini sudah lama terjun ke sungai karena tanah di kiri kanan mesjid ini sudah runtuh. Tapi karena kuasa Allah Swt. mesjid ini masih tegak berdegam bahkan bisa dibilang megah sampai hari ini,” kata H. Mansyur yang didampingi kru majalah Dinamis. Di mesjid Nurul Islam tersebut, rombongan dari sub bagian Humas dan Infoka disambut hangat oleh beberapa tokoh agama Langgam, seperti H. Abu Bakar dan ustadz H. Fadli Rahman, S.Ag. Menurut H. Abu Bakar, mesjid ini merupakan mesjid tertua di Kelurahan Langgam. Mesjid ini tetap bertahan di tepi sungai karena letaknya sangat strategis, yaitu berada di tengah kampung dan tak jauh dari pasar dahulunya. Menurut H. Bakar lagi, semasa Kecamatan Langgam masuk dalam wilayah kabupaten Kampar, pihak pemerintah kabupaten enggan memberi bantuan karena dinilai mubazir. “Dahulu Pemerintah Kabupaten (Kampar), kalau tak salah semasa dipimpin Subrantas enggan memberi bantuan kepada mesjid ini karena dinilai mubazir, sebab tanah ini bakal runtuh. Tapi alhamdulillah sampai kini masih ada,” kata pensiunan pegawai Kantor Urusan Agama ini tersenyum. Menurut H. Bakar lagi, pada awal dibangun, mesjid ini bertiang dan terbuat dari kayu. Setelah dirasa tak muat lagi karena bertambahnya jumlah jemaah, maka dilakukan pemugaran dan dibangun beton. “Ada hal yang cukup mencengangkan terjadi saat itu,” kata H, Bakar. “Ketika keinginan pemugaran dilaksanakan, air pun surut. Di seberang mesjid tiba-tiba timbul batu kerikil. Masyarakat pun mulai bergotong-royong mengambil batu tersebut. Setelah mesjid selesai direnovasi, batu yang dahulunya terdapat di seberang mesjid itu pun hilang. Sepertinya batu tersebut sengaja didatangkan Allah Swt. buat mesjid ini, “ kata H Bakar. Menurut Ustadz Fadli Rahman, “Ke depan mesjid ini akan diperluas lagi, kebetulan tanah di samping mesjid sudah pula dihibahkan penduduk untuk mesjid ini,” kata tokoh muda Langgam tersebut. Dari pantauan Dinamis di seberang kampung, mesjid Melayu yang dibangun di awal abad ke-19 ini. Bangunan unik ini berdiri pas di bibir tebing yang berair deras. Tempat berdiri mesjid menjadi tumpuan air. ini memberi kesan, kalau Mesjid ini seolah berhalaman air. Menaranya yang kuning keemasan, tinggi mencacak tajam seolah hendak menyundak langit. Kehadiran mesjid ini menambah cantiknya kampung Langgam. Selain menjadi anasir memperindah alama Langgam, mesjid ini juga sepertinya menjadi gerbang pertemuan dua sungai, yaitu Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Dari Pekanbaru, menuju lokasi mesjid ini bisa dicapai dengan kendaraan yang menghabiskan waktu kira 2 (dua) jam. Di kampung Langgam ini, sebuah jembatan yang melintang sungai nan membelah kampung, dan mesjid unik ini kelihatannya menjadi pemandangan elok tempat mata hinggap memandang. (GHP)