0 menit baca 0 %

Staf Khusus Menag RI : Urgensi Penanganan Manajemen Krisis dalam Pelaksanaan Ibadah Haji

Ringkasan: Riau (Inmas) Pasca musim haji Tahun 1440 Hijriah, Ditjen PHU Kemenag RI menggelar kegiatan Koordinasi dan Diseminasi Informasi Haji dan Umrah 2019 di Hotel Mercure Padang, Sumbar.Staf Ahli Khusus Menag RI Hadi Rahman turut hadir sebagai pemateri pada kegiatan tersebut.

Riau (Inmas) – Pasca musim haji Tahun 1440 Hijriah, Ditjen PHU Kemenag RI menggelar kegiatan Koordinasi dan Diseminasi Informasi Haji dan Umrah 2019 di Hotel Mercure Padang, Sumbar.

Staf Ahli Khusus Menag RI Hadi Rahman turut hadir sebagai pemateri pada kegiatan tersebut. Menurut staf khusus Menteri Agama RI, Hadi Rahman, perlu diperhatikan adanya  urgensi dalam  menangani manajemen krisis  Kemenag baik dari interen maupun  exsteren. 

Khususnya  lagi dalam pelaksanaan ibadah haji, perlu menghadapi dan membangun opini publik terhadap Kemenag baik saat  pra operasional maupun saat operasional dan pasca operasional haji. 

Begitu pula pada ranah eksteren,  terkadang disebabkan oleh lintas sektoral seperti jemaah yang sakit yang seharusnya ditangani kesehatannya.  Namun jika tidak memuaskan masyarakat/keluarga jemaah, tetap saja mereka menyalahkan Kemenag, ujar alumnus Mercu Buana ini.

Krisis inilah yang  harus di manage oleh Inmas haji. Tugas penting humas salah satunya memberi informasi kepada masyarakat tentang tujuan-tujuan, aktivitas, maksud peraturan/kebijakan pemerintah. Lalu humas juga punya peran dalam menanamkan kepercayaan/meyakinkan masyarakat akan kecakapan, kejujuran dan pengabdian aparatur pemerintahan sebagai pelaksana public service,” ujarnya menambahkan.

Menurut mantan Pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini krisis ibarat sisi lain dari mata uang. Atau seperti pajak yang gak bisa dihindari. Faktanya  sebagian besar krisis berasal dari internal. 

Oleh karena itu perlu mitigasi  krisis yang mencakup 3 hal. Yaitu crisis management plan, crisis management team, dan crisis treaning. 

“Cara mengantisipasi krisis dengan menerapkan crisis inventory. Menghitung potensi krisis pada tiap titik, data, koordinasi, dan komunikasi adalah kunci”, terangnya.

Pria kelahiran Gresik ini menyatakan dalam materinya bahwa mitigasi krisis menurutnya penting untuk dilakukan untuk memastikan kualitas pelayanan, perlindungan serta pembinaan jemaah haji dapat berjalan sesuai dengan rencana yang diharapkan.

Ia menilai komunikasi antara petugas dengan jamaah yang digulirkan melalui aplikasi Haji Pintar dan terintegrasi dengan sistem komputerisasi haji terpadu(siskohat) dan Humas, Data, dan Informasi(HDI), pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) adalah bentuk upaya Kemenag memberikan layanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia.

Sementara itu Kasi SIH Riau Ahmad Zakir  yang turut hadir pada acara Koordinasi dan Diseminasi Informasi Haji dan Umrah 2019 di Hotel Mercure Padang, Sumbar,  juga  menyampaikan hal senada.

Contohnya saja ada jemaah yang meninggal di tanah suci dan sakit di Batam merupakan krisis yang butuh penanganan yang tepat. Karena  keluarga jemaah mengira semua itu ditangani oleh Kemenag.  Padahal hal itu tanggung jawab bagian kesehatan. Tapi jika penanganan kurang memuaskan, maka yang tersorot adalah kemenag. 

Sehingga pada akhirnya  opini yang terbentuk di masyarakat seolah Kemenag tidak becus dalam menangani masalah. Disinilah peran humas di era digital, mampu memberikan informasi terkait kebijakan dan aturan yang ada dalam internal lembaganya.(vera/Anto)