Inmas (Riau) – Plt. Kanwil kementerian Agama Riau memberikan kata sambutan dan materi pembinaan dalam kegiatan pembinaan paham keagamaan Islam di hotel Dafam, pekanbaru pada pukul 15-30 wib. Turut hadir dalam kegiatan itu, Kabid URAIS dan BINSYAR, Para Kasi di URAIS dan BINSYAR, Kepala KUA, Penghulu, dan Penyelenggara Syariah.
Dalam kesempatan itu, Ia menyimpulkan bahwa Permasalahan paham, Aliran, dan gerakan keagamaan Islam bermasalah memiliki sejumlah tantangan, diantaranya Keterbukaan informasi dan iklim demokrasi yang memungkinkan semua orang ingin mengekspresikan keyakinan, paham, aliran, dan gerakan keagamaan, sehingga menjadi kendala efektifitas program dalam penyelesaian masalah.
Faktor kemiskinan dan ketidak-adilan global yang membuka ruang tumbuhnya paham, aliran dan gerakan keagamaan. Lemahnya pengawasan dan tidak adanya standardisasi terhadap para khatib dan da’I yang menyebarkan paham, aliran dan gerakan radikal kepada masyarakat melalui mimbar-mimbar. Lemahnya sinergitas para tokoh agama dan pimpinan ormas Islam dalam penanggulangan radikalisme berbasis agama. Lemahnya basic paham keagamaan masyarakat sehingga mudah diinfiltrasi oleh paham-paham bermasalah yang bertentangan dengan nilai-nilai keharmonisan dan kebangsaan, urai Mahyudin.
Banyaknya situs-situs paham/aliran keagamaan yang belum mendapat pengawasan secara maksimal sehingga mempengaruhi terhadap cara pandang masyarakat terhadap suatu paham atau aliran.
“Untuk mengatasi tantangan tersebut, sejumlah upaya kongkrit difokuskan pada Peningkatan jumlah bantuan kepada rumah ibadah dan ormas Islam, Pelaksanaan program pendidikan dakwah berbasis kebangsaan pada setiap provinsi dan kabupaten.
"Standardisasi khatib dan dai melalui program-program strategis dalam penyampaian materi keagamaan. Sinergisitas antar instansi dalam menyikapi dilema aliran dan paham keagamaan yang bermasalah. Pemetaan potensi masjid/mushalla sebagai pusat pengembangan dakwah Islam”, rincinya.
Disamping itu, solusi lainnya yang menjadi kebijakan Plt. Kanwil Kemenag Riau adalah dengan Penerbitan buku-buku Islam moderat dilakukan oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI dan didistribusikan keseluruh kanwil, seperti: Penerbitan buku Islam Rahmatan Lil-Alamin, Atlas Walisongo, Perbedaan Bukan Perpecahan, Pembinaan Masyarakat Multikultural, dan lain-lain, juga buku saku “Berlomba Dalam Kebaikan” yang merupakan upaya Ditjen Bimas Islam sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat tentang pentingnya umat islam berlomba-lomba dalam menyebarkan kebaikan, penghormatan terhadap keragaman, dan toleransi atas berbagai perbedaan.
“Sebelum dicetak, konten buku Berlomba dalam kebaikan telah melalui pendalaman dari pakar yang mewakili ormas Islam, yaitu MUI, NU, Muhammadiyah, akademisi, dan aktifis perdamaian. Melalui penyebaran buku saku tersebut diharapkan masyarakat dapat tercerahkan dan mendapatkan input tentang pentingnya menjaga harmoni umat dalam wadah NKRI.” tutupnya.(vera/faj)