0 menit baca 0 %

Sisi Humanis dr Pasniwati Terhadap Jemaah Lansia, Sungguh Menggugah

Ringkasan: Riau (Inmas) - Bertugas sebagai TKHI bagi calon tamu Allah mungkin terdengar menegangkan bagi sebagian orang. Betapa tidak, dokter maupun perawat harus senantiasa sigap berpikir dan bertindak menangani beragam kondisi fisik dan psikis jemaah. Terlebih, jika jemaah tersebut sudah tergolong lansia.Nam...

Riau (Inmas) - Bertugas sebagai TKHI bagi calon tamu Allah mungkin terdengar menegangkan bagi sebagian orang. Betapa tidak, dokter maupun perawat harus senantiasa sigap berpikir dan bertindak menangani beragam kondisi fisik dan psikis jemaah. Terlebih, jika jemaah tersebut sudah tergolong lansia.

Namun tidak demikian halnya, yang dialami dokter Pasniwati setiap kali ia bertemu dengan keluhan jemaahnya. Ia mengaku justru tidak pernah merasa panik, selalu merasa tenang menghadapi apapun kondisi pasiennya. “Saya cenderung santai tapi tetap fokus”, ujar dokter yang mahir berselancar ini.

Kepada humas, dokter yang akrab disapa Wati ini bercerita lepas tanpa beban. Terlihat keikhlasan dari tutur bahasa yang dilontarkannya. 

Ya, memang tanpa adanya rasa empati, mustahil bagi jemaah yang butuh perhatian dan  jauh dari keluarganya bisa terbuka terhadap kehadiran dokter atau perawat, yang merawatnya.

Kunci tersebut senantiasa dipegang dokter yang baru saja menggenapkan usianya yang ke 44 tahun tiga hari yang lalu ini, dalam menangani jemaahnya. 

Tahun ini adalah kali kedua, dokter Wati dipercaya sebagai TKHI kloter jemaah haji asal Riau. “Saya merasa ini adalah sebuah rezki dariNya yang patut disyukuri, siapa yang tidak mau bersyukur dan bangga bisa melayani tamu Allah ditanah suci” katanya.

Kepada penulis, dr. Wati menceritakan pengalaman berkesannya menangani para jemaah yang menjadi pasiennya selama di Mekkah. Salah seorang jemaahnya bernama Mujinah datang kepadanya.

“Pertama keluhannya nyeri di kaki dan ulu hati, ternyata setelah diajak berbicara dan curhat, saya pinjamkan hp android, malah berakhir video call dengan anak cucu,  sakitnya jadi sembuh”, terangnya tergelak. 

“Sudah Bu...makasih yah bu”, kata jemaah itu dengan aura bahagia. Begitu saya ingatkan, obatnya nek..eh nenek ini bilang, tak perlu lagi..sudah sembuh katanya sambil berlalu.

Sambil bergumam dalam hati, Wati meyakini saat itu si pasien telah menerima pertolongan pertama darinya. 

Dokter yang mengaku berdarah Minang ini juga pernah menemukan kasus jemaah yang datang padanya dengan kulit yang sangat kering. Kemudian si Ibu  mengaku tak bisa mandi menggunakan shower.

Lalu saya ajak ke kamar mandinya dan mengajarinya cara menggunakan shower, sebut dokter Wati melanjutkan cerita.

“Dok..ternyata ga suhu cuaca saja yang panas di Mekkah, airnya juga panas, kata jemaahnya. Lalu saya  ambil airnya sedikit demi sedikit sambil membasahi badan si ibu, kenangnya.

Pengurus besar PMI Kampar ini selalu mengingatkan jemaahnya untuk selalu berpikiran positif, menebarkan senyum dan kebaikan kepada siapapun.

Didikan dari seorang ayah yang telaten dan gigih sebagai pedagang kue Sagun Bakar, membuatnya bijak dalam menyikapi hidup dan menghidupkan semangat jemaah.

Seorang jemaah lain asal Kampar bernama Amiruddin juga pernah menjadi korban terbaiknya. “Saya senang bisa ngasih motivasi dan apresiasi kepada jemaah yang bisa berhenti merokok selama ditanah suci”, terangnya.

Alhamdulillah.., baru satu orang jemaah yang benar benar berhenti merokok, imbuhnya. Ketika saya mencoba memberikan sugesti, saya tatap matanya sambil bicara sungguh sungguh menyuruh bapak itu berdoa agar berhenti merokok, akhirnya tak sia sia, dalam waktu singkat si bapak pun berhenti merokok.

“Jemaah berusia 71 tahun itu mengaku sudah tidak merokok lagi hingga sekarang, saking senangnya langsung saya kabari keluarganya dikampung melalui pesan WhatsApp”, ujar penyuka warna ungu ini.

Hal menarik lain yang selalu disampaikannya kepada seluruh jemaah, tentang pentingnya menikmati keberadaan dan lingkungan yang dirasakan saat ini di Mekkah, menjadi trik ampuh untuk jemaah yang mulai pesimis kembali bangkit semangatnya.

Ia juga mengajarkan jemaah arti sebuah keikhlasan dan kesabaran bila merasakan sakit. “Sakit adalah cara Allah menggugurkan dosa dosa kita”, pesannya selalu kepada jemaah.

Selain sering mewanti wanti untuk selalu memakai APD, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini juga mengingatkan jemaahnya untuk menghindari komentar yang tidak penting dari siapapun. 

“Pancarkan kehangatan dengan sesama, abaikan hal hal yang akan merusak ibadah kita”, ucapnya memberi motivasi lainnya.

Empatinya yang sangat besar, membuatnya merasa nyaman dalam menjalani tugas dan menghadapi keluhan maupun kesulitan pasien.

“Jujur, saat tes masuk penerimaan untuk tenaga dokter di TKHI tahun ini tak menyangka akan dipanggil kembali ke Baitullah, karena sudah diberi kesempatan pada Tahun 2017, itu pertama kali saya diizinkan suami ikut test TKHI”, ungkap pencinta tenis meja penuh semangat.

Pengalaman dokter Wati selama menangani (pasien) jemaahnya, ia dapat melihat perjuangan hidup pasien yang semangat menjalani ibadah di tanah suci. Berangkat dengan motto hidup adalah ibadah, ia bertekad jangan pernah lelah tetaplah melayani.

Yang paling berkesan itu adalah saat ia bersama rekan-rekan satu tim lainnya menangani seorang pasien yang tidak mau diinfus, tak mau makan dan minum sementara kondisi badannya sangat lemah. 

Begitu saya pancing bercerita, bongkar bongkar hatinya ternyata jemaah saya mengidap penyakit rindu, ujar ibu tiga anak ini sembari tertawa. “Kalau tidak mau pasang infus, harus sering minum obat, bonusnya saya kasih video call dengan keluarga dikampung, kalau tidak mau minum obat bisa kena Dam” katanya menggoda jemaah.

Ibu itu langsung duduk dan menangis, rupanya jemaah saya demam tinggi karena terjangkit virus rindu, katanya lagi tertawa geli.

Pernah ada juga kasus yang ditanganinya terhadap pasien lain yang sudah lansia juga. Pasien itu diantar sang anak berobat. Sang ibu mengaku punya riwayat hipertensi. Begitu saya tanya, sudah berapa lama sakit, sudah minum obat apa saja, apa pernah datang ke spesialis, pasien saya ini hanya menjawab seadanya.

“Lalu saya bilang, bu...tatap saya, Ibu itu pun menurut saja. Saya melihat raut wajah yang sedih menyimpan banyak beban sambil menatap kosong..

Tiba tiba anaknya nyeletuk, udah dok..kasih saja obatnya, biasanya kalau sudah dikasih langsung hilang kok pusingnya. Tanpa sadar dengan nada tegas saya suruh anaknya diam. “Kita dengar dulu keluhan ibunya pak”,katanya masih bercerita.

Tak lama kemudian saya ajak ibu itu untuk bercerita, sambil tersenyum saya pegang tangannya, jangan takut Bu..saya akan mendengarkan.

Saya sempat terenyuh mendengar si ibu bercerita, Dia bertanya, 'Kenapa dirinya bisa sakit  seperti itu? Apa yang menyebabkan dirinya harus terkena penyakit seperti ini? Apa kesalahannya? Sementara dia merasa sendiri selama ini dirumahnya. Anak anak yang seharusnya tempat bercerita sibuk bekerja. 

Sampai si ibu itu berpikiran kalau dia harus berkeluh kesah, khawatir akan membebani anak anaknya. Sambil menangis ibu itu bercerita, bagaimana ia sangat merasa sepi dan merasa sendiri, walaupun biaya hidup dan makan ditanggung anak anaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Sang anak langsung memeluk ibunya dan membisikkan “Ya Allah..maafkan kami Bu.., tutur dokter Wati sambil menirukan ucapan anak ibu itu.

 “Tak perlu obat ya pak, ibunya..bapak cukup berikan pelukan dan perhatian saja”, kata dokter humoris ini sambil tersenyum.

Ya, ada kepuasan tersendiri saat bisa membantu pasien yang sembuh dari sakitnya," ujar sulung dari lima bersaudara ini. Ia mengaku merasa menikmati dan sangat senang dalam merawat pasien.

“ Tidak ada yang bisa menggantikannya selain rasa syukur dan bangga saya bisa merawat dan membantu mereka para Duyufurrahman ini”, terangnya.

Selepas pasien keluar dari ruangannya, dokter yang tergabung dalam tim SSRO (Surfzone Relief Operations) ini mengaku langsung menelfon ke kampung.” Karena tetiba saya sangat merindukan ibu saya saat itu”, ucapnya mengakhiri.(vera)