Sikap Umat Menyahuti Panggilan Haji
Ringkasan:
ROKAN HULU (KEMENAG) Kalau kita bertanya kepada seseorang, kenapa dia belum melaksanakan ibadah haji, lantas dia menjawab bahwa dia belum melaksanakan ibadah haji, karena panggilan untuk menunaikan ibadah haji itu belum datang dan bahkan belum sampai.
ROKAN HULU (KEMENAG) Kalau kita bertanya kepada seseorang, kenapa dia belum melaksanakan ibadah haji, lantas dia menjawab bahwa dia belum melaksanakan ibadah haji, karena panggilan untuk menunaikan ibadah haji itu belum datang dan bahkan belum sampai.
Jawaban ini adalah jawaban yang keliru dan tidak benar sama sekali, sebab panggilan itu telah dikumandangkan ribuan tahun yang lalu oleh Nabi Ibrahim AS. Selain itu, panggilan itupun sudah sampai, sebab tidak ada satupun umat Islam yang tidak mengetahui tentang kewajiban haji itu, termasuk oleh anak-anak kecil sekalipun.
Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, ketika menyampaikan taushiyah di hadapan jamaah sholat Dzuhur Masjid Agung Madani Islamic Centre (MAMIC) Pasir Pengaraian, Kamis (18/9/2014), yang dihadiri oleh Bupati Rohul Drs H Achmad MSi, Wakil Bupati Ir H Hafith Syukri, Kepala Badan/Dinas/Kantor dan pegawai Pemkab Rohul lainnya.
Dikatakannya, bukan panggilan haji yang tidak sampai, tetapi yang berbeda adalah bagaimana kita menyahuti panggilan haji itu. Dan kalau kita lakukan pengamatan terhadap umat Islam, atas sikap dalam menyahuti panggilan haji itu, setidaknya terbagi kepada empat kelompok besar, yaitu :
Pertama, ada yang ingin memenuhinya dan dia mampu untuk itu lalu kemudian melaksanakannya. Ini adalah orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Mereka hendaknya bersyukur sebab mereka telah dapat menyahuti dan melaksanakan panggilan yang dikumandangkan Nabi Ibrahim AS itu.
Kedua, ada yang ingin dan mampu, namun ada aral melintang sehingga maksudnya tidak tercapai. Padahal terkadang semua persiapan sudah dilakukan, membayar sudah, tinggal berangkat lagi ke tanah suci, namun di tengah jalan ada rintangan dan hambatan yang mengintai, sehingga menyebabbkannya gagal menunaikan ibadah haji.
Ketiga, ada juga yang mampu, kesempatan baginya terbentang luas, tetapi hatinya tidak tergerak, langkahnya justru semakin jauh. Kelompok ini juga cukup banyak, hartanya melimpah, kesehatannya prima, waktunya juga cukup lapang, namun hatinya itu betul yang tidak tergerak untuk menunaikan ibadah haji.
Keempat, ada juga yang berkeinginan tetapi seperti kata pepatah, Ingin hati memeluk gunung, namun apa daya tangan tak sampai. Kelompok ini adalah orang-orang miskin yang tekadnya sebetulnya sangat kuat untuk berhaji, namun dana yang diperlukan untuk itu tidak mencukupi, sehingga sepanjang hayatnya tidak dapat menunaikan ibadah haji.***(Ash)