Pekanbaru (Inmas) Pecahnya konflik sektarian beberapa
waktu ini di India, antara masyarakat Hindu dan Muslim, mengakibatkan tidak
sedikit jatuhnya korban jiwa umat Islam disana. Konflik di India ini diawali
dari disahkannya amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan India (CAB) pada
Desember 2019 lalu.
Menyikapi hal tersebut, civitas akademika MAN 4 Pekanbaru setelah
menunaikan rangkaian kegiatan sholat zhuhur berjama'ah pada Senin (02/03/2020)
bertempat di mushola Al Fatih, langsung melaksanakan sholat ghaib yang juga
ditunaikan secara berjama'ah. Sholat ghaib diniatkan untuk umat Islam yang
menjadi korban jiwa dalam konflik tersebut. Kegiatan di pandu Waka Kurikulum
Ust. Oloan Harahap, MA yang juga Guru Pendidikan Agama Islam Bidang Fiqih.
"Sejatinya perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang
bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka
sekujur badan akan merasakan panas dan demam", ucap Oloan Harahap menyitir
hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (No. 6011), Muslim
(No. 2586) dan Ahmad (IV/270) saat diminta konfirmasi tentang pelaksanaan
sholat ghaib siang ini. Inilah wujud ukhuwah Islamiyyah kita sebagai sesama
muslim dengan saudara kita di India sana. Kedukaan dan keperihan mereka adalah
kedukaan kita. Tentu kita berharap konflik fisik di sana segera berakhir, untuk
dan atas nama kemanusiaan. Sembari itu, tentunya kita berharap, konflik
horisontal antar pemeluk agama yang berbeda disana, tak merembet ke negara
kita. Saya rasa konsep moderasi beragama yang digaungkan Kementerian Agama
(Kemenag) bisa jadi jalan tengah untuk menjembatani kebhinekaan kehidupan
manusia secara umum, sehingga mampu mengelola ragam potensi gesekan masyarakat,
baik secara vertikal maupun secara horisontal, tambah Oloan lagi. (Zhendri)