Pekanbaru (Inmas)- Shizuoka University Jepang menawarkan program beasiswa pada siswa dan guru madrasah di Provinsi Riau. Shizuoka University merupakan perguruan tinggi terkemuka di Jepang, sedang penyelenggaraan beasiswa merupakan program kolaborasi antara universitas dengan industri yang dinamakan Asia Bridge Program (ABP).
Prof Sakiko Kajino Ph D, dalam presentasenya dihadapan siswa MAN 1 Pekanbaru mengungkapkan, tujuan beasiswa ABP tersebut dalam rangka membentuk mahasiswa menjadi akademisi dan profesional. Dan didesain untuk mencetak pemimpin-pemimpin bisnis dan sosial berskala global di masa depan.
“Kurikulum ABP dirancang secara interdisipliner dengan fokus mengkombinasikan antara teknologi, bisnis, ilmu pengetahuan dan kemampuan komunikasi interpersonal,” jelasnya.
Tawaran beasiswa tersebut disambut antusias oleh Madrasah di Provinsi Riau, khsusunya MAN 1 dan MAN 2 Pekanbaru. “Shizuoka University akan merekrut siswa madrasa untuk study ke Jepang dengan memenuhi persyaratan- persyarat khusus. Dan ini merupakan hasil kerjasama MAN 1 Pekanbaru, MAN 2 Model Pekanbaru dengan dijembatani oleh Insan Cendekia Serpong yang memiliki banyak relasi di Luar Negeri. Selain menindaklanjuti kerjasama Kementerian Agama dengan Shizuoka University,” jelas Kepala MAN 1 Pekanbaru Drs H Muliardi M Pd, Jumat (22/4).
Untuk itu, kata Muliardi, perlu penyesuaian menu yang disajikan oleh universitas, seperti jurusan ilmu sosial, matematika dan ilmu pengetahuan alam, skill, dan tes standar internasional, tofel dan educatiaon for Japanes University.
“Tes akan berlansung dua kali setahun, pendaftaran Februari untuk tes bulan Juni, pendaftaran Juli untuk tes pada bulan November. Tes akan dilaksanakan di Surabaya dan Jakarta. Namun pihak Shizuoka University akan mencoba melakukan kerjasama dengan Medan agar pelaksanaan tes beasiswa ini bisa dilaksanakan di Medan,” ungkapnya.
Untuk itu, ia berharap, pihak madrasah yang ada di Riau memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa tersebut dengan mempersiapkan kemampuan siswa. Target akan disesuai kemampuan anak didik, karena pihak madrasah hanya mempersiapkan softwarenya saja.
“Sejauh ini kendala hanya dalam hal bahasa, karena mereka juga menggunakan bahasa Jepang. Untuk itu, target kita kedepan adalah mendatangkan atau membuat format pembelajaran bahasa Jepang, tidak kita masukkan dalam intra kulikuler tapi ekstra kulikuler bagi anaknya sekolah ke Jepang. Semoga ada anak madrasah yang lolos untuk ke Jepang,” harapnya. (mus)