Pekanbaru (Inmas)- Shalat berjamaah ashar mengawali pelaksanaan Apel Akbar dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2016 di Halaman Kantor Gubernur Riau, Kamis (6/10).
Shalat tersebut diikuti langsung oleh Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman, Pgs Kakanwil Kemenag Riau Drs H Mahyudin MA, Pejabat di lingkungan Pemprov Riau dan Kemenag Riau, serta 4.636 santri se Indonesia dengan imam dari salah satu pondok pesantren di Riau.
Usai pelaksanaan shalat ashar berjamaah acara dilanjutkan dengan pelaksanaan apel akbar yang diawali dengan penampilan pembacaan ayat- ayat suci al- qur’an, doa, dan laporan pantia.
Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman dalam sambutannya mengatakan, banyak lulusan santri-santri yang telah berhasil menunjukan eksistensinya didalam berpolitikan dan kemimpinan Indonesia. Seperti, Menteri Ketenagakerjaan RI, M Hanafi Dahkiri dan Khofifah selaku Menteri Sosial RI.
Untuk itu ia berharap agar para santri harus menunjukan eksistensinya, karena Menteri Ketenagakerjaaan, Menteri Sosial juga alumni pesantren. Seiring dengan perkembangan global perubahan budaya yang tak terelakan, santri harus memberikan respon positif dan mengikuti perkembangan tersebut dalam suatu hal yang positif.
Gubri menambahkan, para santri untuk dapat menjadi agent of change, dan pesantren dituntunt untuk pertahankan pendidikan keagamaan diera globalisasi. Agar santri menjadi pribadi muslim kedepan, antara imtek dan impek, dan diharapkan menteri untuk bisa ikut sertakan balai pelatihan di pondok pesantren.
Sementara itu, Ketua forum komunikasi pondok pesantren Riau selaku panitia, Prof Dr Ahmad Mujahidin MA menyebutkan, Apel Akbar dalam rangka Hari Santri Nasional di Provinsi Riau diikuti sebanyak 4.636 santri dari 5.000 undangan yang sebar. Dengan rincian Pekanbaru mengirimkan utusan sebanyak 2.392 santri, Kampar 204 santri, Pelalawan 100 santri, Siak 450 santri, Bengkalis 20 santri, Rohil 60 santri, Rohul 10 santri, Inhil 90 santri, Inhu 90 santri, Kepulauan Meranti 20 santri, Dumai 70 santri, dan Kuansing 45 santri.
Menurutnya, peringatan Hari Santri Nasional benar-benar telah mengangkat harkat dan martabat santri. Dimana, selama ini gerakan santri seolah- olah tersendat, karena imagenya lulusan pondok itu hanya bisa mengaji dan baca doa saja, sehingga tidak diakomodir dalam pemerintahan. (mus)