0 menit baca 0 %

SDM Jadi Kendala Keterbukaan Informasi Publik di Kemenag

Ringkasan: Bandung (Humas)- Dari hasil presentasi perwakilan tim pegelola website dan Virtual Private Network (VPN) 22 Provinsi pada Evaluasi Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Pengelolaan Website Kementerian Agama (Kemenag) Pusat dan Daerah Tahun 2010 di Hotel Horizon Bandung, SDM merupakan kendala dalam m...
Bandung (Humas)- Dari hasil presentasi perwakilan tim pegelola website dan Virtual Private Network (VPN) 22 Provinsi pada Evaluasi Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Pengelolaan Website Kementerian Agama (Kemenag) Pusat dan Daerah Tahun 2010 di Hotel Horizon Bandung, SDM merupakan kendala dalam mengimplementasikan Undang Undang 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) melalui jaringan website. Seperti yang disampaikan peserta evaluasi website dari Kemenag Sulawesi Selatan (Sulsel), Sudirman, SDM merupakan masalah klasik yang tidakhanya dialami oleh Sulsel tapi juga Kemenag Provinsi lain. Sehingga, update berita, foto dan informasi cendrung terlambat bahkan ada beberapa daerah hanya berjalan ditempat karena ketidak tersedianya tenaga pengelola yang menguasai hal tersebut. "Untuk peningkatan jaringan website yang telah dibangun oleh Kemang perlu adanya tim kerja dan tenaga yang menguasai tentang jaringan dan konten web," ungkapnya. Keterbatasan SDM tersebut juga disampaikan oleh peserta evaluasi dari Provionsi Riau, Novam S. Ia menyampaikan, selain keterbatasan SDM Website Kemang Riau juga minim personal. Untuk itu, perlu adanya upaya peningkatan SDM oleh Kemenag Pusat dan Daerah, agar target yang ingin diraih dapat terealisasi. Keterbatasan tersebut menjadi Pekerjaan Rumah "PR" bagi Kemenag untuk dapat mengimplementasikan peraturan tersebut ditahun mendatang dengan membuat kesepakatan dan mencari solusi untuk menutupi keterbatasan dalam pengelolaan informasi website. Sehingga, keberadaan website Kemenag mampu memebarikan kebutuhan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Kondisi website Kemenag yang masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat tersebut diakui oleh Ir Nukman Lutfie selaku praktisi Informasi Teknologi (IT) saat memberikan materi Layanan Website yang Dinamis dan Informatif pada Evaluasi dan Peningkatan SDM Pengelola Website Kemenag Pusat dan Daerah di Hotel Horison, Jumat (17/12). Menurutnya, untuk mengelola website secara benar harus mengenal 7C, yaitu Convenience, Content, Customization, Community, connectivity, costumer care dan communication. Dengan menerapkan 7 C dalam pengelolaan website maka sasaran informasi akan dapat dicapai. Nukman, secara rinci menjelaskan, dengan convenience infor apa saja yang dibutuhkan dengan mudah dan cepat didapatkan. Karena jika website sulit untuk diakses, maksimal dalam 30 detik costumer langsung pergi. Dan hampir 70 persen website pemerintah mengalami kondisi tersebut. "Untuk mengetahui tingkat pengunjung ke web minta statistiknya di IT, karena ini bisa jadi bahan evaluasi. Semakin besar tingkat pengunjung yang pergi 30 detik semakin buruk sebuah web. Dan dari 2000 web yang saya kelola, rata-rata pengunjungnya 30 detik saja, namun setelah dilakukan perbaikan tingkat pengujungnya kembali meningkat," jelas Nukman. "Yang wajib di wbsite itu adalah visi dan misi, update secara regular, Informasi yg serta merta yang tidak disangka-sangka," ungkpanya. Content yang hanya dimiliki sendiri dan tidak mungkin ditemukan ditempat lain sehingga orang lain tidak punya pilihan. Penempatannya harus ditempat yang bener seperti di info penting. Community dan Connectivity yaitu Informasi yang disampaikan mudah didapatkan dimanapun kita mencarinya, seperti di google. Karena semakin tinggi tingkat kunjungan costumer maka akan semakin terbaca oleh google, dimana google secara aktif mencatan tingkat kunjungan costumer ibaratnya malaikat pencatat amal baik dan buruk yang tidak dapat disogok atau dirubah. Untuk itu, website Kemenag harus bisa connect dengan yg lain, seperti antar departemen atau kementerian sehingga bersatu padu. Serta memanfaatkan fasilitas komunikasi lainnya seperti twiter dan facebook untuk promosi. Sedangkan Costumer care merupakan informasi yang paling standar tapi banyak dicari oleh pembaca, seperti info tentang proses haji dan biaya perjalanan haji. Jika perlu dalam web tersedia call centre yang dapat mempermudah masyarakat dalam mendapatkan informasi tentang haji atau info keagamaan lainnya. C terakhir adalah Communications antara yang tekait dengan masyarakat atau costumernya dengan mengetahui apa yang diinginkan masyarakat sehingga conten yang kita sajikan tidak membosankan. Tambah Nukman, yang menarik bagi kostumer terhadap informasi melalui situs website atau portal karena website nya mudah digunakan, respon yang cepat familiarity atau memiliki ciri khas yang menonjol dan dikenal masyarakat serta informasi yang disajikan relevant, akurat dan informatif. "Sebaliknya, yang membuat costumer tidak betah dan tidak akan datang lagi ke website karena informasi yang disajikan ketinggalan jaman alias basi, respon yang lambat, site downtime atau situsnya sering mati-mati, dan poor costumer service," ungkapnya. Untuk itu, untuk dapat maju website Kemenag harus melakukan pembenahan dengan memperhatikan user interface dan marketing communication. User interface menjadikan tampilan web lebih bagus, lebih halus, desain menarik, informasi beragam dan download speed. Marketing Communikations dengan update secara terus menerus, barnd image mencerminkan perusahaan, brand activation atau adanya usaha untuk lakukan aktivasi, conten yang beragam, annual report dan laporan yang update. "Dengan menerapkan ini semua, saya berharap website kemenag dapat tampil lebih baik. Karena sebuah web itu harus punya karakter seperti manusia yang mampu berbicara dengan audience," tutupnya. (msd/nvm)