Riau (inmas) – Direktur KSKK (Kurikulum,
Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah Dr H A Umar MA, yang baru saja dilantik
oleh Menag RI pada 14 Agustus 2017 lalu, sambangi MAN I Pekanbaru pada Jum’at (20/10) siang. Yang
mana pagi sebelumnya sudah meninjau dan melakukan pembinaan di MAN IC Siak.
Pada kesempatan itu Umar mengungkapkan alokasi
anggaran 2018 kedepan akan diprioritaskan untuk Indonesia bagian Timur, karena
menurutnya bagian daerah timur Indonesia merupakan wilayah yang jarang
tersentuh sehingga mereka terkesan terluar dan terbelakang. Untuk ia merasa
perlu memberikan perhatian lebih agar terwujud pemerataan kualitas pendidikan
madrasah yang di Indonesia, terangnya mengawali orasi.
Apalagi saat ini, sambungnya animo dan
ketertarikan masyarakat terhadap madrasah meroket tajam di seluruh wilayah di
Indonesia. Ia mengatakan ketika kita bicara tentang madrasah, menariknya UNESCO
justru menganggap madrasah yang ada di Indonesia sangat spesial. “Jika pun ada
Islmaic school dengan munculnya sekolah boarding school , tapi itu bukan
madrasah, madrasah itu unik dan spesial”, ujarnya lagi.
Tak hanya itu, lanjut Umar bahwa peningkatan kualitas madrasah juga harus
dilakukan dengan pendekatan yang esensial. Terkadang kendala kita itu disini,
sebutnya. Tak sedikit guru guru instan asal jadi yang berada di lingkungan madrasah
kita. Kendala lain menurutnya adalah kurang publish, kenapa tidak semua
madrasah bisa dikenal prestasinya secara nasional, padahal segudang prestasi
sudah ditorehkan. “Segudang prestasi pun kalau tidak dipublikasikan ke
masyarakat, tentu orang tidak akan mengenal kelebihan dan prestasi sekolah kita”,
ucapnya.
Yang tak kalah penting, lanjut Umar “Jadilah
guru terbaik, kalau tidak bisa menjadi guru terbaik ga usah menjadi guru,
karena menjadi guru itu yang diasuh adalah rohani”, tekannya.
"Dua buku saya tentang pendidikan madrasah dan pengalaman di lapangan telah mengantarkan saya duduk sebagai Direktur KSKK Madrasah," lanjut Umar membuka cerita tentang sedikit pengalamannya di hadapan seluruh pejabat dan praktisi pendidikan. Ia mengaku pernah menulis buku dengan judul Revolusi Madrasah: Mozaik "Perjuangan" Tiga Kota (2014), yang--diberi Kata Pengantar oleh Prof. Dr. Nur Syam, M.Si. yang pada saat itu menjabat sebagai Dirjen Pendidikan Islam dan Prof. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, MA, yang saat itu sebagai Direktur Pendidikan Madrasah dan buku Madrasah Transformatif: Best Practice Pengelolaan Madrasah di Kota Santri (2015). Dua buku tersebut, ditulisnya berdasarkan pengalaman lapangan ketika ia menjadi Kepala Kantor Departemen Agama di beberapa Kabupaten, sayangnya tak terbawa sekarang, ujarnya.
Di akhir arahan, Umar memberikan tips
tips sederhana namun menyentuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan di
madrasah. Pertama, harus memilih guru yang baik, jangan menerima guru yang
terpaksa, ini dikhawatirkan bukan mendidik siswa tapi justru akan menyiksa
siswa. Kedua, harus bisa memilih guru yang rajin dan disiplin, karena
menurutnya tipe guru seperti ini akan bisa memberi stimulus besar sekaligus
mengobsesi semangat siswa untuk giat belajar. Karena tugas guru adalah merubah
anak menjadi lebih baik dari segi prilaku bukan saja pengetahuan. Artinya Materi,
metode, guru dan roh perlu ada dalam proses pembelajaran, jelasnya memberi
spirit.
Tahun 2021, ia menargetkan menjadi tahun
keemasan bagi madrasah. Tentunya didukung dengan indikator yang bagus. Apalagi
saat ini madrasah terbukti sudah menunjukkan eksistensinya di tengah
masyarakat. “Sebut saja semakin banyak madrasah reguler yang berprestasi dari
tahun ke tahun termasuk MAN cendikia yang memiliki kualitas mumpuni. Masa keemasan
ini tidak bisa Sim Sala Bim begitu saja, perlu langkah kongkrit untuk
membuktikannya.
Untuk itu, pihaknya kedepan akan
menyiapkan regulasi untuk membatasi pendirian madrasah cendikia, madrasah
kejuruan yang jumlahnya ada lima di
Indoensia, dan untuk MAN IC ada sebayak
20 madrasah. Pun membatasi pendirian madrasah madrasah swasta yang baru. Ia
mengaku pembatasan ini dilakukan guna pemerataan
akses, dengan dana yang tidak besar bisa dialokasikan untuk mengsubsidi
madrasah seperti MAN I Pekanbaru ini, yang sudah bagus ini dengan ada suntikan
dana bisa lebih maju lagi kedepan. Ketimbang memberikan yang baru. “Bukan
berarti tidak mau MAN IC lagi, MAN reguler dan unggulan yang ada kita benahi secara fokus dalam hal
financial sehingga kualitas bisa menyamai MAN IC”. Imbuhnya.
"Untuk Tahun 2018 ditafsirkan akan ada
sekitar 1000 madrasah aliyah yang negeri
di akreditasikan dan dibiayai, sebab dengan akreditasi yang baik akan
memberikan kesadarankepada kawan kawan di madrasah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan. Ia menilai dengan adanya akreditasi akan bisa mengukur prestasi
maupun segala kelemahan dan kekurangan yang ada" tandasnya.
Turut hadir pada acara itu, Kanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA, Kepala
Bidang Pendidikan Madrasah H Asmuni, Kepala Kankemenag Kota Pekanbaru H Edward,
para Kepala Seksi Pendis Kemenag Kab/kota, Kepala Sekolah MAN I Pekanbaru,
Kepala TU MAN I Pekanbaru, Kepala
Madrasah se-Riau dan para majelis guru. (vera/adi/anto/jk)