Pekanbaru (Inmas) – Sajak sufistik karya Griven H. Putera (ASN Kanwil Kemenag Riau) akhirnya bergema di panggung Ziarah Karyawan/Penyair Mengenang Usman Awang, Sungai Besar Selangor Malaysia pada Sabtu, 12 Agustus 2017. Griven H Putera yang punya nama kepenyairan H E S membacakan tiga sajaknya pada helat bertajuk Baca Sajak Sampai Subuh yang ditaja panitia. Sajak-sajak itu berjudul Hak, Sampai dan Kembali.
Pembacaan sajak tersebut diberikan suara latar oleh dua teaterawan Riau, Hanif Muis dan A Amesya Aryana serta seorang pemusik, Madi.
Usai pertunjukan, Yassin Salleh, seniman besar Malaysia yang menjadi Pengarah Utama kegiatan tersebut berkomentar kepada Griven alias HES, “Jika nanti ayahanda ke Pekanbaru, tolong ananda bacakan lagi sajak tadi. Dan khususkan buat ayahanda sendiri ya,” katanya dengan suara yang dalam sambil memegang tongkatnya. Yassin Salleh menunduk sejenak, tak lama kemudian, lelaki berjuluk Balam Tua itu menepuk-nepuk dada HES, “...sajak yang engkau buat dan kau baca tadi keluar dari sini.” Lelaki itu terus menepuk-nepuk dada HES dengan punggung tangannya. “Ananda. Tak banyak lagi penyair yang sama ucapan dan tindakannya,” ucap peneraju Ziarah Karyawan tersebut kepada HES dengan khidmat dan serius.
Griven hadir bersama 5 penyair Riau lainnya, yaitu Alhaj Aris Abeba, Dheni Kurnia, Herman Rante, Zamhir Arifin dan Qory Islami serta kru Panggung Toktan. Kehadiran Panggung Toktan dan enam penyair Riau serta sejumlah wartawan Riau ini dalam rangka menghadiri jemputan akbar dari Panitia Ziarah Karyawan Asia Tenggara Mengenang Usman Awang.
Selain pembacaan sajak, malam sebelumnya delegasi dari Singapura, Malaysia, Vietnam dan Indonesia disuguhkan persembahan Panggung Toktan berjudul Dondang Azab, Nuyang Jaimee dan Ibrahim Ilyas di panggung utama di tengah sawah. Dan paginya melakukan dialog kebudayaan tentang perkembangan dunia seni budaya yang berkembang di Rantau Asia Tenggara akhir-akhir ini.
Pada Ahad, 13 Agustus malam, sebelum dilaksanakan Baca Sajak Sampai Subuh, panggung utama di tengah sawah pun diisi secara tunggal dengan penampilan Teater musikal Uda dan Dara yang disutradarai Dinsman. Naskah Pementasan itu diambil dari karya Usman Awang, Sastrawan Negara Malaysia. Persembahan teater ini menyuguhkan elegi cinta kasih tak sampai, humor ala Melayu serta bau pemberontakan atas ketidak-adilan. (ghp)