0 menit baca 0 %

Ribuan Masyarakat Siak Hadiri Peringatan Maulid di Masjid Al-Fattah

Ringkasan: Siak (Inmas) – Bertempat di Masjid Al-Fattah kampong Dalam Siak, Pemda Siak melaksanakan Kegiatan Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H/2015 M, Senin (28/12/15) dengan mengundang Penceramah dari Pekanbaru Ustadz Abdul Shomad, Lc.

Siak (Inmas) – Bertempat di Masjid Al-Fattah kampong Dalam Siak, Pemda Siak melaksanakan Kegiatan Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H/2015 M, Senin (28/12/15) dengan mengundang Penceramah dari Pekanbaru Ustadz Abdul Shomad, Lc. MA.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Siak Drs. H. Syamsuar, M.Si, Wakil Bupati Siak Drs. H. Alfedri, M.Si, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak Drs. H. Muharom, Camat Siak, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat para undangan lainnya dan masyarakat sekitar Kampung Dalam Siak.

Bupati dalam sambutannya yang diwakili oleh Wakil Bupati Drs. H. Alfedri menjelaskan, bahwa peringatan Maulid Nabi, maksud dan tujuannya adalah agar semakin faham terhadap segala segi kehidupan Rosululloh yang diberi gelar Al-amien yaitu sosok pribadi yang jujur dan terpercaya.

Kepribadian yang ditampilkan oleh Rasulullah, mengandung tantangan cukup berat karena selain harus memperhatikan dan menciptakan Ukhuwah (persaudaraan) baik dikalangan kaum muslimin dan muslimat, juga dituntut untuk mengundang simpatik dari masyarakat yang tidak seagama, melalui akhlaq mahmudah, yakni prilaku yang terpuji serta saling sayang menyayangi tanpa melihat perbedaan suku, agama dan status sosial, karena tugas rosul adalah memberi rahmat bagi seluruh alam, “Jelas Wabup”.

Dalam ceramah yang disampaikannya, Ustadz Abdul Shomad mengatakan menyampaikn bahwa Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut.

Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu. Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat Al-A`yan menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, dia mendapati Sultan Al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karena itu, Al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “Al-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An-Nadzir”. Karya ini kemudian dia hadiahkan kepada Sultan Al-Muzhaffar.

Para ulama, semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh Al-Hadits telah menyatakan demikian. (Awl)