Pekanbaru (Inmas)- Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Riau tahun 2016, sebanyak 283 ribu masyarakat Riau usia sekolah tapi tidak mendapat pendidikan sekolah, 50 ribu tidak mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (9-12 tahun), 80 ribu tidak mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama/ MTs (16-18 tahun), 153 ribu masyarakat tidak sempat mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ini merupakan angka pantastik, dan beruntung bagi siswa yang masih bisa mengikuti pendidikan 12 tahun belajar dan tamat madrasah dengan hasil terbaik.
Dengan angka tersebut, menurut Ketua Rektor UIN Suska Riau yang juga Ketua Komite MAN 2 Pekanbaru, Prof Dr H Munzir Hitami MA, beberapa waktu lalu menyebutkan, indeks partisipasi kasar umur sekolah masih cukup rendah. Secara nasional sekolah menegah atas itu baru mencapai 60% nasional, kalau SD dan SMP berkisar 70%. Artinya 60% dari 100 anak-anak yang tamat sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah, hanya 60 orang yang melanjutkan ke sekolah menengah atas dan yang 40 lagi terhenti. rata-ratanya seperti itu. Lebih parahnya lagi perguruan tinggi masih 30%, secara nasional anak-anak kita yang berkesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi, maknanya dari 100 anak-anak kita yang tamat, hanya 33 orang yang terus lanjut keperguruan tinggi. Berbanding terbalik dengan negara tetangga kita seperti Malaysia sudah 70% dan Singapura sudah 90% untuk sarjana.
“Untuk sarjananya kita masih di 30%, angka partisipasi kasar kita untuk umur kuliah di perguruan tinggi. Untuk Bapak dan Ibu yang masih bekesempatan supaya bisa membantu anak-anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” ungkapnya.
Pada kesempata itu ia mengucapkan selamat dan mudah-mudahan alumni MAN 2 Model Pekanbaru dapat bermanfaat, dan dapat melanjutkan perjuangan dengan penuh semangat. Karena sudah 3 tahun digembleng dan ditanamkan jiwa semangat, untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dengan menghadapi tantangan dan persaingan yang berat.
“Generasi sekarang harus memanfaatkan kesempatan, karena generasi kami dulu generasi perintis yang sekolah dengan biaya sendiri, berjuang dengan bekerja sambil bekerja. Generasi sekarang lebih mudah, karena orang tua sudah bisa menfasilitasi anak- anak sekolah yang lebih baik demi kesuksesan masa depan anak- anak,” harapnya.
52 Ribu Warga Riau Buta Aksara
Sementara itu, sebanyak 52 ribu atau sekitar 1,8 persen warga Riau masih buta aksara dengan usia pada umumnya 45 tahun keatas. Hal tersebut disebabkan karena masih rendahnya partisipasi masyarakat Riau dalam mengenyam pendidikan.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau, Kamsol, angka tersebut terbilang besar, namun jika dibandingkan dengan laju penduduk Riau 2,4 juta, maka angka buta aksara tersebut masih dalam kategori kecil. Ia menambahkan, beberapa alasan kenapa anak- anak usia sekolah tidak bersekolah, yang paling menonjol adalah faktor ekonomi dan ketersediaan sekolah yang sangat jauh dari tempat tinggal.
Selain masih adanya pemikiran bahwa sekolah tidak penting, karena nanti mereka juga akan bekerja membatu orang tua berkebun, bertani, nelayan dan sebagainya.
“Posisi pendidikan Riau saat ini berada pada nomor 26 dari 34 Provinsi di Indonesia. Angka putus sekolah yang tinggi tidak baik bagi pembangunan dan kemajuan SDM Riau, ini menjadi tantangan sekaligus PR bagi semua pihak untuk menuntaskannya,” ungkapnya seraya berharap semua pihak dapat ikut serta memberikan pemahaman dan motivasi kepada anak bangsa untuk terus belajar agar bisa menekan angka buta aksara sekaligus memberi sumbangsih pada pembangunan negara dan bangsa. (mus/dms)