Pekanbaru (Humas) – Buku merupakan jendela ilmu. Jika mau berilmu maka banyaklah membaca buku. Andai ingin tahu seluk-beluk dan kekayaan budaya Melayu, maka bacalah buku-buku Melayu. Kini buku-buku tentang Melayu tak begitu banyak ditemui di toko buku di Riau padahal bila dibandingkan dengan buku-buku yang terbit di luar Riau, buku-buku Riau tak kalah mutunya. Bahkan buku yang ditulis pengarang Riau lebih enak dan bernas untuk dibaca semua kalangan, karena pengarang Riau merupakan pewaris syah induk bahasa Indonesia yaitu penutur bahasa Melayu yang merupakan asal bahasa Indonesia.
Hal itu disampaikan Griven H Putera, redaktur majalah Dinamis saat membedah buku cerita Rakyat Riau berjudul Putri Pinang Masak karya Afrizal Cik di Toko Gramedia Pekanbaru, Sabtu malam (25/04) yang ditaja Yayasan Riau Heritage yang bekerjasama dengan Toko Buku Gramedia Utama Pekanbaru.
Menurut Griven lagi, cerita rakyat merupakan bacaan sastra. Setiap karya sastra mengandung pelajaran dan pengajaran. Namun sayang, tak semua orang mampu berkisah dengan baik sehingga keteladanan yang diungkapkan karya sastra lepas-luncai dalam peradaban. Di sinilah letak jasa pengarang yang membatukan kisah-kisahnya melalui buku-buku dan kitab-kitab. Untuk itu, sejatinya setiap peradaban berterima kasih kepada pengarang karena telah berjasa mendidik anak bangsa melalui kisah hikmah dan berfaedah.
“Jangan remehkan karya sastra. Di koran Kompas saja, honor cerpen lebih mahal daripada honor artikel yang ditulis Profesor. Itu salah-satu penanda kalau karya sastra itu sangat bernilai dan bermutu,” kata Griven.
Tentang buku karya Afrizal Cik ini, Griven sendiri menuturkan, bahwa kisah ini disajikan dengan menarik karena pengarang menggunakan bahasa Melayu (asal bahasa Indonesia) yang sederhana, elok, kocak dan sesekali berbunga. Bahasa yang seperti ini merupakan bahasa yang mangkus bagi pendidikan anak dan semua kalangan.
“Kisah yang ditulis Africal Cik ini mengandung banyak hikmah, di antaranya, pertama hidup itu indah jika melalui banyak ujian. Ini terlihat dalam dinamika hidup yang dilalui Putra Rengit Perkasa dan Putri Pinang Masak. Kedua, hantu kiwi sebagai simbol kejahatan, pasti akan hancur. Ketiga, tak ada manusia yang dapat lari dari takdirnya. Keempat, perbuatan baik itu akan memetik buah yang manis. Ini terlihat pada sosok Nek Ketiung dan Bujang Mengkopot yang baik hati,” kata Griven.
Pada kesempatan itu Griven juga menyampaikan kalau Afrizal Cik sepertinya banyak terinspirasi dari Soeman HS. Bahkan kata Griven, Afrizal Cik merupakan penerus Soeman HS bila dilihat dari penulisan cerita detektif, humor segar ala Melayu serta kosa kata Melayu yang kaya.
Ketika salah-seorang peserta bedah buku bertanya di mana mendapatkan buku-buku Melayu seperti ini, Griven H Putera yang juga merupakan sastrawan nasional asal Riau ini menyebutkan, kalau buku ini baru beredar di tangan pengarangnya dan beberapa penulis Riau.
“Kita berharap, ke depan pihak penerbit, pengarang dan toko buku Gramedia rajin saling berkomunikasi dan berkoordinasi sehingga karya pengarang Riau dapat ditemukan di toko buku ini,” ungkap Griven.
Pada kesempatan itu hadir sejumlah tokoh Melayu seperti Ir T Edy Sabli, salah-seorang ketua lembaga adat Melayu Riau, Dedi Ariandi ST, Ketua Riau Heritage dan lain-lain. (ghp)