0 menit baca 0 %

Rasulullah Teladan Sepanjang Zaman

Ringkasan: Kampar (Inmas) - Rasulullah SAW merupakan contoh teladan dan idola terunggul dalam meniti arus kehidupan yang penuh pancaroba. Baginda Rasulullah merupakan contoh teladan yang terbaik kerana memiliki sifat-sifat yang terpuji sehinggakan baginda telah diberi gelaran Al-Amin oleh masyarakat Arab Qurai...

Kampar (Inmas) - Rasulullah SAW merupakan contoh teladan dan idola terunggul dalam meniti arus kehidupan yang penuh pancaroba. Baginda Rasulullah merupakan contoh teladan yang terbaik kerana memiliki sifat-sifat yang terpuji sehinggakan baginda telah diberi gelaran Al-Amin oleh masyarakat Arab Quraisy kerana kejujuran baginda dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Demikian disampaikan Abuya Syamsuatir MESy, dalam tausiyah pagi jum’at, di Musholla Miftahul ‘Ilmi Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar, hari jum’at (16/12).

Syamsuatir mengatakan, Rosulullah ini, bukan hanya menjadi rahmat buat kaum muslimin yang menjadikan beliau sebagai panutan dan contoh sejati dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah, dalam bersosialisasi sehari, menjadi ayah, menjadi suami, menjadi kakek bahkan menjadi seorang pemimpin. Tetapi Rosulullah juga adalah rahmat untuk alam sejagat ini, yang di sana hidup manusia-manusia yang tak pernah tahu dan mau tahu buat apa mereka diciptakan oleh Allah. Dengan diutusnya Rosulullah saw ke dunia ini, dengan membawa cahaya islam, Islam telah mampu merubah kehidupan umat manusia ke arah kehidupan yang penuh makna, menerangi dengan ilmu pengetahuan dan kemakmuran.


Al-Quran sejak 14 abad yang lalu telah menegaskan:
"Sungguh terdapat dalam diri Rosulullah suri tauladan yang baik" (Al-Ahzab: 21). Seorang sosok pribadi yang mulia, yang begitu mencintai umatnya, saat kematian akan menjemput beliau yang beliau ingat dan pikirkan adalah umatnya. Hari-hari Rosulullah pun semasa hidupnya adalah memperhatikan bagaimana umatnya mendapat kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akherat.

Seorang sahabat Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Ketika Rosulullah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami di rumah ‘Aisyah. Beliau memandang kami tanpa sepata kata, sehingga kami semua menangis menderaikan air mata. Lalu beliau bersabda: "Semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kalian. Aku berwasiat agar kalian bertakwa kepada Allah. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah. Kalau sudah datang ajalku, hendaklah Ali yang memandikan aku, Fudlail bin Abbas yang menuangkan air, dan Usman bin Zaid membantu mereka berdua. Kemudian kafani aku dengan pakaianku saja manakala kamu semua menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih. Ketika kalian sedang memandikan aku, letakkan aku di atas tempat tidurku di rumahku ini, yang dekat dengan liang kuburku nanti. "
Mendengar itu, seketika para sahabat menjerit histeris, menangis pilu, sambil berkata: " Wahai Rasulullah, engkau adalah utusan untuk kami, menjadi kekuatan jamaah kami, selaku penguasa yang selalu memutusi perkara kami, kalau Engkau sudah tiada, lalu kepada siapakah kami mengadukan semua persoalan kami!?", ucap Syamsuatir.

Rasulullah Saw bersabda: "Aku sudah tinggalkan untuk kalian jalan yang benar di atas jalan yang terang benderang, juga aku tinggalkan dua penasehat, yang satu pandai bicara dan yang satu pendiam. Yang pandai bicara yaitu Al-Qur’an, dan yang diam ialah kematian. Manakala ada persoalan yang sulit bagi kalian, maka kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnahku, dan andaikan hati keras seperti batu, maka lenturkan dia dengan mengingat kematian”, ungkap Syamsuatir. (Ags/Usm)