Depok (Inmas) – Biro Humas dan Informasi Kemenag RI mengadakan Rapat Koordinasi Kehumasan di Hotel Santika Depok Jabar 13 s.d 15 Mei 2019. Rakor dihadiri oleh bagian Kehumasan/Public Relations dari lingkup pemerintah provinsi, yang merupakan stakeholder kehumasan termasuk Kasubbag Inmas se-Indonesia. Tak terkecuali Provinsi Riau yang mengutus Kasubbag Inmasnya Drs H Eka Purba serta 1 orang staf kehumasan Adi Yuliandi.
Acara dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, M.Nur Kholis Setiawan. M Nur Kholis menyampaikan dalam sambutannya, sebagai aparat Humas tidak terlepas dari opini publik, karena salah satu fungsi Humas adalah menciptakan opini publik yang memiliki good will (kemauan baik) dan partisipasi.
Menurutnya mantra Kemenag terkait Moderasi beragama, adalah menjadi suatu keniscayaan untuk diterapkan pada sebuah negara yang heterogen menurut kajian akademisi.
Untuk itu keragaman agama di Indonesia perlu dikelola dengan baik agar menjadi sebuah harmoni yang indah. Menurutnya diperlukan sebuah moderasi agama, yang tidak ekstrim kanan dan juga tidak ekstrim kiri.
“Ekstrimisme dalam beragama dapat mengancam keutuhan negara”, sebutnya.
Humas juga berperan dalam membangun dan memberikan informasi sebaik secara internal dan eksternal. Humas harus membangun strategi untuk menanamkan kepercayaan publik, tidak hanya memperoleh citra positif tetapi mampu mengelola isu hangat yang berkembang.
Setidaknya ada dua poin penting yang harus dibenahi oleh humas Kemenag guna mengejawantakan moderasi beragama, yakni konten dan kemasan media. “Konten yang diolah harus sesuai dengan target publiknya”, lanjut Nur Kholis.
Ia menilai generasi muda atau yang biasa disebut generasi Z, lebih menyukai hal-hal yang simple dan yang mudah dicerna.
“Kepiawaian humas dalam mengolah konten agar diminati oleh semua generasi sangat dituntut, tidak hanya generasi milineal tapi generasi Z”, imbuhnya.
Ia menambahkan, generasi Z memiliki banyak jejaring sosial yang memungkinkan banyaknya informasi yang mereka terima dari berbagai macam sumber. "Generasi Z tidak suka membaca buku yang tebal-tebal, tapi yang simple yang dikemas bagus sehingga lebih mudah dicerna.
Generasi Z ini memiliki banyak jejaring sosial," rincinya kepada peserta 34 provinsi tersebut. Selain konten, membenahi kemasan adalah poin kedua yang tak kalah penting, lanjut mantan pengajar ilmu tafsir ini.
"Tak kalah pentingnya adalah membenahi kemasan. Kemasan informasi sebaik mungkin," terangnya. “Humas sangat penting untuk memiliki network luas," sebutnya.
Tema yang diangkat terkait keterlibatan Humas dalam menciptakan opini publik sangat penting, untuk menciptakan kesejukan.
Terakhir Nur Kholis mengajak humas untuk mengembangkan kapasitas dan kapabilitas melalui jangkauan media sosial yang tengah berkembang saat ini.
“Semakin banyak media sosial yang diisi oleh orang Kementerian Agama, maka semakin banyak pula ruang publik yang diwarnai oleh Kementerian Agama, tukasnya.(vera/adi)