0 menit baca 0 %

Rakor Kegiatan Ramadhan, Kemenag Riau Libatkan Ormas Islam dan Lembaga Penyiaran

Ringkasan: Riau (Inmas)  Jelang ramadhan yang di laksanakan beberapa hari ke depan, Kanwil Kemenag Riau melalui  Bidang Urais menggelar rapat koordinasi  terkait kegiatan ibadah pada bulan suci ramadhan, Kamis (18/05). Kegiatan yang berlangsung pada sore hari tersebut menghadirkan beberapa ormas Islam dan l...

Riau (Inmas) –  Jelang ramadhan yang di laksanakan beberapa hari ke depan, Kanwil Kemenag Riau melalui  Bidang Urais menggelar rapat koordinasi  terkait kegiatan ibadah pada bulan suci ramadhan, Kamis (18/05). Kegiatan yang berlangsung pada sore hari tersebut menghadirkan beberapa ormas Islam dan lembaga penyiaran yang ada di Provinsi Riau.

Pada kesempatan tersebut H Irhas selaku kepala bidang Urais dan binsyar menuturkan rapat tersebut dilaksanakan guna meningkatkan pelayanan terhadap umat, agar tercipta suasana kehidupan dan perjalanan syari’at  dengan baik, sesuai dengan tuntunan sehingga setidak tidaknya dapat memperkecil dan meminimalisir perbedaan perbedaan dalam media yang dikelola masing masing terkait pengumuman jadwal berbuka puasa dan imsak.

Jelang beberapa hari kedepan kita akan memasuki bulan suci ramadhan, fokus dan agenda rapat kita  adalah sehubungan dengan tanda pengumuman jadwal berbuka puasa bisa sama di setiap lembaga penyiaran maupun masjid yang ada di Kota Pekanbaru, setidaknya jika pun berbeda namun dalam skala kecil, tuturnya.

Menurut info dan berkaca pada tahun lalu yang menyebabkan terjadinya sedikit perbedaan tersebut karena program kita waktu durasinya itu yang akan membuat sedikit perbedaan. Kalaupun program tayang masih berjalan ada semacam pemberitahuan ataupun clue dari media tersebut untuk memberikan pengumuman kepada umat muslim.

“Rakor ini diharapkan dapat melahirkan kesamaan persepsi dan keputusan yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan”, ujarnya. Irhas mengakui bahwa masing masing ormas Islam dan lembaga penyiaran memiliki metode sendiri terkait masalah pengumuman jadwal berbuka dan imsak serta jadwal sholat. Irhas mengingatkan pentingnya kesamaan persepsi ini untuk kaum muslimin khususnya di kota Pekanbaru dan sekitarnya.

Sementara itu Kakanwil mengungkapkan bahwa kegiatan ramadhan ini penting untuk disiapkan dan akurat dalam penyiarannya.

Ahmad Supardi juga mengingatkan pentingnya kesamaan jadwal tanda berbuka sebagai pedoman bagi kaum muslimin. Karena perbedaan waktu 3-4 menit ikut menentukan kesempurnaan dalam beribadah puasa, jika hanya berbeda persekian detik masih bisa ditolerir, ujarnya. Calon doktor ini mensinyalir, penentuan jadwal berbuka dan imsak ini  melibatkan para pakar dan ahli falaq yang tergabung dalam jajaran pengurus Badan Hisab Rukyat (BHR) kita.

Lebih lanjut dikatakaannya dikalangan masyarakat kita masih sering dijumpai kekeliruan dalam menggunakan jadwal waktu sholat dengan mengandalkan jadwal sepanjang masa. Namun kalau untuk jadwal berbuka dan imsak, hal ini berbahaya bisa diragui sah atau tidaknya ibadah puasa kita, terang Ahmad menuturkan.

Yang paling penting menurutnya perbedaan tersebut, tidak boleh terlalu jauh. Oleh karena itu kita menggunakan badan hisab rukyat seperti dewan falaq dari UIN. Jangan sampai perbedaan ini akan menimbulkan masalah ditengah masyarakat kita. Maka kita sepakati untuk imsakiyah kita gunakan satu saja, jangan sampai ada dua imsakiyah, dan untuk jamnya  kita samakan. Jika pun ada perbedaan itu hanya persekian detika saja, tekan beliau.

Pihaknya berharap mengingat kegiatan Ramadhan ini adalah syi’ar agama kita, maka untuk kegiatan ceramah sebaiknya dimanage secara akurat, bila perlu langsung ditunjuk ustadz yang akan memberikan ceramah tersebut, dengan terlebih dahulu menentukan judul masing masing. Agar tidak terjadi tumpang tindih judul,ucapnya. Untuk MDI dan ICMI agar dilakukan pembekalan mengenai materi untuk keseragaman, ucapnya di hadapan perwakilan masing masing lembaga penyiaran dan televisi swasta yang tersebar di Pekanbaru.

Menurut salah satu ormas Islam, agar lebih akurat dan adanya kesamaan, akan lebih mudah jika kita menggunakan jam GMT plus 7, karena menit bahkan detiknya bisa kita atur, ujarnya. Mengingat selama ini juga RRI mengambil standart waktu kita dari GMT tersebut,  Dengan sistem digital dengan cara jam arloji harus dicocokkan terlebih dahulu dengan RRI.

Sementara itu perwakilan dari Pihak RRI juga mengatakan bahwa pihaknya selama ini menggunakan standart GMT, menggunakan digital bukan manual, sembari terus berkoordinasi dengan Masjid Agung An Nur untuk menyesuaikan lagi, namun kenyataannya masyarakat lebih meyakini pengumuman yang disiarkan melalui radio, ucapnya. Kemudian salah satu perwakilan  ustadz  Siaran Radio Hidayah mengusulkan untuk waktu sholat bisa diseragamkan. 

Rapat tersebut menghasilkan pemakaian imsakiyah Ramadhan 1438 H ini hanya satu imsakiyah saja agar terwujud keseragaman. Pada kesempatan itu juga diedarkan imsakiyah Ramadhan 1438 H kepada masing masing ormas Islam dan lembaga penyiaran yang hadir pada rapat tersebut.(vera/faj)