0 menit baca 0 %

Pupus Berangkat Ke Tanah Suci Bersama Istri, Calhaj Asal Kampar Ini Berkisah

Ringkasan: Riau (Inmas) - Lelaki paruh baya Syahril Bin Muhammad Zein (62),  menjadi Jamaah Calon Haji (JCH) Kloter 9 BTH Kabupaten Kampar  provinsi Riau. Guru asal Kuok ini merupakan jamaah daftar tunggu haji sejak 7-8 tahun yang lalu.Menjadi haji diniatkan sejak ia mendaftarkan diri sebagai jamaah pada Tah...

Riau (Inmas) - Lelaki paruh baya Syahril Bin Muhammad Zein (62),  menjadi Jamaah Calon Haji (JCH) Kloter 9 BTH Kabupaten Kampar  provinsi Riau. Guru asal Kuok ini merupakan jamaah daftar tunggu haji sejak 7-8 tahun yang lalu.

Menjadi haji diniatkan sejak ia mendaftarkan diri sebagai jamaah pada Tahun 2011.

Setelah delapan tahun menunggu, didetik detik jelang keberangkatan  rasa sedih menyelimuti dirinya.

Di dalam hati ia berniat naik haji Bersama sang istri Nurasni binti Saman Huri. Namun Ia harus legowo dan mengurut dada karena istri divonis tidak bisa berangkat saat pemeriksaan masa tunggu keberangkatan.

Awalnya guru SMP I Kuok ini sempat  ingin membatalkan Keberangkatan, karena ingin menunggu istri sampai sehat bisa berangkat bersama.

Namun dukungan anak anak dan keluarga terdekat akhirnya Ia memutuskan tetap berangkat walau tanpa istri disisi.

Ia berharap bisa mendoakan sang istri secara langsung dihadapkan Kakbah untuk bisa diangkat penyakitnya oleh Allah.

"Sudah lama saya menunggu keberangkatan ini, saat bisa terwujud, istri saya sakit, namun saya tetap bersyukur semuanya ujian dari Allah," katanya.

Tak mudah baginya untuk berangkat sendiri tanpa istri, tapi bagaimanapun mungkin ada hikmah terbaik dibalik ujian ini, katanya dengan guratan sedih.

Kesedihan bapak Syahril sangat terlihat saat istrinya menangis kala mendengar suaminya berkata pamit ingin berangkat. “Jangan menangis juga lagi, ucapnya” dengan nada lembut sembari mengelus lengan sang istri yang tak berdaya.

Pasangan suami istri tersebut sempat sepakat untuk menunda mimpinya menjalankan ibadah haji di tahun 2019 ini. Namun dukungan pihak keluarga terhadap suaminya agar tetap berangkat jadi motivasi juga bagi suaminya untuk meminta doa mustajab di Tanah Suci.

Ia mengaku sangat sedih halangan tiba-tiba menimpa istrinya  yang dinyatakan tidak lolos tes kesehatan dan tidak direkomendasikan untuk berangkat haji.

Pada saat menjalani pemeriksaan pada fase masa tunggu keberangkatan. Istrinya sudah mengidap penyakit syaraf terjepit, sambungnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh putrinya yang mendampingi ibunya yang menggunakan kursi roda. Hamidah mengaku ibunya sudah tidak punya semangat dan gairah lagi berbicara sejak ditimpa sakit enam bulan lalu.

“Yang separah ini enam bulan terakhir, biasanya mama masih bisa jalan ke kamar mandi, kemarin itu sempat demam jatuh di kamar mandi dan tak bisa jalan lagi sampai sekarang, sejak 6-7 bulan lalu”, jelas pegawai Bank BRI ini dengan raut muka sedih.

Hamidah mengatakan menurut dokter ibunya harus menjalani operasi. Ia menyatakan ibunya batal berangkat ini karena mengalami struk ringan dan baru baru ini syaraf terjepit.

Mereka masuk ke dalam kelompok terbang (kloter) 9 yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Hang Nadim menuju Arab Saudi, Jumat (12/7/2019).

Sementara itu menurut Bruri Anggraini tim Kesehatan Haji dari Kabupaten Kampar, jamaah bernama Nurasni (62) ini memang sudah diketahui penyakitnya saat pemeriksaan.

 “Sakitnya sudah lama, sudah dua tahun menurut keterangan dari dokter Santi Sahmini”, yang merupakan TKHI pada kloter 7 BTH.

Sesuai peraturan Menteri Kesehatan nomor 15 tahun 2016, tentang istithaah atau kesehatan haji, kondisinya tidak memenuhi syarat dan terpaksa harus ditunda. "Kemarin ini ada juga 6 jamaah calon haji dari Kampar pada kloter 7 yang mengidap penyakit gagal ginjal, tapi karena tidak sampai cuci darah, akhirnya bisa diberangkatkan", kata wanita yang akrab disapa Ai ini.

"Kriteria istithaah salah satunya gagal ginjal stadium 4 atau 5, tapi enggak semua pengidap gagal ginjal enggak bisa berangkat, ada jemaah yang memiliki penyakit tapi kondisi masih memenuhi syarat dan bisa diberangkatkan," jelas Kasi Farmasi Dinas Kesehatan Kampar tersebut.

Pada saat posisi Nurasni masih di daerah asal, kondisi kesehatannya masih memungkinkan untuk berangkat.

Namun, setelah mengalami jatuh dikamar mandi kondisi kesehatannya menurun, ujar wanita berkacamata berdarah Minang ini.

Pada waktu yang sama bapak Syahril membenarkan juga, Ia menceritakan, jika sebelum ini istri nya sudah dianjurkan untuk melakukan operasi oleh dokter Siskohat Santi Sahmini. “Namun anak anak saya tidak ada yang setuju, khawatir ibunya makin parah, maka hanya berobat kampung saja” katanya.

Sekarang semangatnya sudah tidak ada, bila tiba tiba menangis, saya pun ikut nangis, apa boleh buat kehendak Allah, selagi saya sehat sekarang, semoga bisa mendoakan istri saya di Mekkah nanti.

”Saya sudah berencana juga untuk membadalkan istri nanti di tanah suci, dan kalau istri saya sehat insyaallah bisa pergi juga nanti”, imbuhnya.

Ketika disinggung tentang pelayanan jamaah di Embarkasi Syahril mengaku apresiatif dan memuji pelayanan di Embarkasi. “Banyak kemudahan Alhamdulillah, ini sudah termasuk mewah dari semuanya, kata Syahril.

Ia sangat berharap semoga Embarkasi haji Antara suatu saat akan menjadi Embarkasi penuh. “Semoga bukan Embarkasi haji antara lagi kita kedepan, mungkin kalau dapat lahan di AURI itu bisa luarbiasa jadinya”, ucapnya.

Diakhir bincang, Syahril mengaku membawa doa doa khusus ke tanah suci, selain ingin mendapat predikat haji mabrur, Ia juga membawa doa untuk istrinya yang tengah sakit saat ini.(vera)