Pekanbaru (Humas) - Ustadz Saidul Amin beri tausiyah siang Ramadhan bagi pejabat dan pegawai Kanwil Kemenag Provinsi Riau di Musahalla Al Ikhlas, Kamis (24/06).
Menurut Dosen UIN Suska Riau ini, Secara filsafat, puasa itu melatih tiga dimensi pada diri manusia. Pertama liberalisasi, humanisasi dan transendensi. Liberalisasi bermakna pembebasan diri.
“Ada komentar dalam tafsir Buya Hamka, bahwa seorang orientalis menyebut puasa tersebut dalam rangka memperbudak manusia. Maka agama tak lebih dari konsep perbudakan Tuhan terhadap umat manusia. Hamka menjawab, justru dengan berpuasa tersebut membebaskan manusia dari penjajahan karena pada hakikatnya manusia itu sedang terjajah. Sekurang-kurangnya dijajah oleh hawa nafsunya. Jadi, puasa melatih manusia untu menjadi makhluk yang merdeka, yang dikenal dengan liberalisasi, “ kata Saidul Amin.
Kemudian Dosen Fakultas Ushuluddin ini menyampaikan bahwa puasa merupakan proses humanisasi.
“Orang yang berhasil menjadi raja bagi hawa nafsunya, dia inilah raja yang sesungguhnya. Yaitu yang tahu untuk apa dia diciptakan. Wama khalaqt al-jinna wa-al insana illa liya’buduni. Inilah yang dimaksud dengan humanisasi tersebut, yaitu menjadikan manusia yang sesungguhnya,” ujar Saidul.
Lebi lanjut Ustaz Saidul Amin menyampaikan bahwa puasa juga mendidik manusia untuk memahami hal-hal yang transedensi. Memahami ada sebuah kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.
“Kehidupan transendensi ini tidak bisa dilacak akal. Sebab akal tidak bisa memahaminya. Pada area transendensi ini serahkan saja kepada Tuhan karena akal manusia tidak mampu mencernanya,” tukas Saidul Amin.
Hadir pada siang tersebut Kakanwil Kemenag Riau H Tarmizi Tohor, Kabag TU HM Saman, sejumlah pejabat lain dan pegawai di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Riau. (ghp)