0 menit baca 0 %

Prof Tolchah Hasan: Guru Baru Itu Bernama Media

Ringkasan: Bekasi (Humas) - Siswa sekarang banyak yang lebih pintar daripada gurunya karena sumber ilmu sekarang sudah bergeser. Kini sumber ilmu yang diperoleh siswa tidak saja dari keluarga, lingkungan dan sekolah, tapi justru yang paling dominan adalah dari media.

Bekasi (Humas) - Siswa sekarang banyak yang lebih pintar daripada gurunya karena sumber ilmu sekarang sudah bergeser. Kini sumber ilmu yang diperoleh siswa tidak saja dari keluarga, lingkungan dan sekolah, tapi justru yang paling dominan adalah dari media.  Sejak Sekolah Dasar anak-anak sekarang sebagian sudah berinteraksi dengan perangkat teknologi komunikasi dan mendapatkan informasi yang banyak, baik melalui internet, facebook, twitter dan lain sebagainya. Sementara gurunya masih ada yang gagap menggunakan teknologi informasi. Akibatnya siswa malas dan bosan ke sekolah karena ia merasa lebih pintar daripada gurunya.

Hal itu disampaikan Prof KH Tolchah Hasan, mantan Menteri Pendidikan Nasional RI pada acara Sarasehan Penguatan Pendidikan Agama Islam bagi siswa di sekolah dalam rangka membangun muslim yang ramah, bersahabat, dan berwawasan multikultural. Selain Prof KH Tolchah Hasan, sarasehan ini juga menghadirkan Prof DR Azyumardi Azra. Sarasehan ini ditaja sempena Pentas PAI (Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam) ke-6 di aula Embarkasi Haji Bekasi Jawa Barat, Rabu (27/11).

“Ini yang kurang dipahami dunia pendidikan sekarang. Guru masih dipandang yang paling banyak pengetahuan dan wawasannya dibanding siswa. Padahal belum tentu. Untuk itu para guru mesti menambah keluasan materi, sistematika penyampaian, sampai penampilan pun diperhitungkan agar tidak diremehkan siswanya,” ujar KH Tolchah Hasan yang sudah 54 tahun menjadi guru,  mulai guru Sekolah Dasar hingga menjadi Guru Besar.

Menurut KH Tolchah, lembaga pendidikan sekarang bisa dibagi menjadi, pertama pendidikan yang aman dari kekacauan atau penyimpangan (wilayah hijau), contohnya sekolah berbasis agama, baik sekolah Islam, Katolik maupun Hindu. Andaipun terjadi insiden seperti tawuran dan kenakalan remaja lainnya hanya sesekali dan tidak rutin. Kedua, sekolah yang sesekali terjadi  kekacauan (wilayah kuning). Ketiga sekolah yang langganan terjadinya kekacauan.

“Hipotesa sementara saya, bahwa terindikasi sekolah zona hijau itu adalah sekolah yang perangkat pengetahuan agamanya lengkap. Hampir semua sekolah yang berbasis agama tidak  mengalami kekacauan tersebut,” ujar KH Tolchah

Menurut mantan Menteri Pendidikan Nasional ini, bahwa faktor yang mempengaruhi aktivitas pendidikan agama, pertama adalah faktor pranata keluarga. Keluarga Indonesia hari ini sudah sedikit yang berperan menanamkan nilai agama pada masyarakatnya karena kesibukan orang tua. Kedua, faktor kompetensi dan kepedulian.  Antara faktor kompetensi dan kepedulian terkadang tidak terjadi keserasian. Tapi juga terjadi saling mendukung. Ketiga faktor lingkungan sosial atau abituasi. Bagaimana anak mau bagus kalau di sekolah diajar yang baik tapi lingkungannya tidak baik. Kempat, penggunaan waktu kosong. 

“Syaiani mardudun fihima. Yang bisa mempengaruhi kita adalah al jiddu wal faroq. Waktu kosong. Yaitu memberi kesempatan seorang anak untuk banyak melamun yang bukan-bukan,” lanjutnya. (ghp)