0 menit baca 0 %

Prof Dr Phil HM Nur kholis Setiawan MA : Mari Berbenah dan Bangun Kebersamaan, Tantangan dan Peran Kemenag Makin Kompleksitas

Ringkasan: Itjen Kemenag RI Prof Dr Phil H M NurKholis Setiawan MA, memberikan pembinaan dihadapan seluruh pejabat dan pegawai struktural maupun fungsional di Aula Utama Kanwil Kemenag Riau pada Selasa (20/03). Pembinaan tersebut dilaksanakan disela kunjungan kerjanya ke Perguruan Tinggi Islam Riau.Realitas da...

Itjen Kemenag RI Prof Dr Phil H M NurKholis Setiawan MA, memberikan pembinaan dihadapan seluruh pejabat dan pegawai struktural maupun fungsional di Aula Utama Kanwil Kemenag Riau pada Selasa (20/03). Pembinaan tersebut dilaksanakan disela kunjungan kerjanya ke Perguruan Tinggi Islam Riau.

Realitas dan Tantangan Kemenag dimasa datang dalam menghadapi dinamika masyarakat makin kompleks. Satker Kementerian Agama adalah satker terbanyak, mencapai  4134 satuan kerja, dengan Entitas akuntansinya yang sangat banyak yaitu sebanyak 6882 satker, didukung oleh 314244 ASN yang ada di Indonesia dimana bobot paling banyak adalah sebagai guru. Demikian diungkapkan irjen mengawali materi pembinaannya dihadapan seluruh ASN Kemenag Riau.

Kendati demikian Pejabat kelahiran Kebumen tersebut menyatakan bahwa Inspektorat Jenderal Kemenag RI telah berkomitmen tegas akan menerapkan paradigma baru dalam pengawasan dan mengedepankan pendampingan terhadap seluruh satker di Indonesia. Hal itu berguna untuk menjawab tantangan yang sedemikian besar kedepan.

Alumni pondok ini mengharapkan efektifitas Itjen dalam melakukan pendampingan bagi satker Kemenag lainnya dalam implementasi program akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. “Jangan sampai penyakit akut yang terjadi di Kemenag seperti selama ini, berupa anggaran yang kerap menumpuk diakhir tahun  terjadi lagi kedepan”, ucapnya.

Profesor muda kelahiran Tahun 1969 ini menyebutkan selain mengupas terkait pengawasan, ia mengingatkan kembali tugas dan fungsi yang ada di Kemenag lebih dominan pelayanan kepada ummat beragama, peningkatan kualitas kehidupan keagamaan, kualitas kehidupan kerukunan umat beragama, peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, dan peningkatan kualitas layanan ibadah haji, terangnya.

Hal ini adalah PR berat dan tantangan Kemenag yang membutuhkan komitmen kuat ditengah arus media sosial yang berdampak sangat tinggi terhadap problematika umat hari ini. Ia memandang varian paham keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat ditengah keberagaman sejumlah agama yang ada, menjadikan Kemenag sebagai lembaga Keagamaan wajib terjun langsung dalam mengatasi persoalan umat.

Saat ini, pihaknya mengaku tengah melakukan tiga fokus aktivitas dalam memperbaiki Kementerian Agama, diantaranya : Pertama, terkait review kegiatan dan program kerja khususnya satker yang tergolong besar Perguruan Tinggi dan Kanwil Kemenag guna melihat dan menekan potensi pelanggaran yang terjadi. Kedua, Pendampingan penyusunan laporan keuangan yang biasanya dilakukan menjelang akhir tahun anggaran. Ketiga, audit kinerja, audit operasional dan audit investigasi.

Irjen juga mengingatkan untuk selalu bertekad dalam meningkatkan kinerja agar lebih baik lagi, pihaknya menegaskan mulai Tahun 2018 ini akan mencari akar masalah bukan mempersoalkan masalah dalam pelaporan Keuangan. "Maka nya perlu banyak telaahan dalam setiap temuan temuan dari pihak Irjen", ungkapnya. Makanya yang  perlu diketahui adalah akar masalahnya, bukan mempersoalkan temuan temuan tersebut", terangnya. Untuk itu perlu perbaikan perbaikan internal yang berkesinambungan ucapnya memberi spirit.

Selain itu program kemenag terkait alokasi dana SBSN, program madrasah juga menjadi kupasan menarik pada acara pembinaan bagi pejabat yang baru saja dilantik tersebut. Menurutnya para tim Irjen akan sangat membantu proses berjalannya program program Kemenag tersebut. 

Pada kesempatan itu juga ia meminta kepada para pimpinan satker dan penanggungjawab kegiatan yaitu : pertama harus menguasai tugas dan fungsi sesuai dengan yang diemban. Artinya jangan membiasakan diri mengandalkan dan bergantung pada bawahan, karena akan berpotensi ucapnya. Kedua, pemimpin harus mampu memilah unit kerjanya masing masing, kuasai betul mana yang prioritas dan mana yang mandatori. Ketiga, Para pemimpin harus menguasai regulasi, dan juknis. "Karena sebagai instansi vertikal yang menjadi imam terhadap regulasi adalah pejabat eselon di Kemenag, daerah hanya melaksanakan, tidak boleh ada ijtihad lagi didaerah" tekannya.

Lebih dari itu, Nur Kholis mengedepankan kebersamaan dalam membangun dan upaya mengembangkan lembaga, Irjen berpesan untuk menghilangkan ego-sentris dan ego-sektoral, terutama dalam menciptakan kerukunan umat beragama. Karena baginya keberhasilan sebuah satker adalah keberhasilan tim, keberhasilan bersama.(vera/eka)