Riau (Inmas) - Bengkalis adalah sebuah negeri yang berada di pantai timur Sumatera. Ia merupakan sebuah pulau yang katanya merupakan delta yang berada tepat di muara Suangai Siak. Luas wilayah diperkirakan 938,40 km² dengan letak geografis yang diapit oleh Selat Melaka di sebelah utara dan Selat Bengkalis di sebelah selatan. (https://id.wikipedia.org)
Pulau ini dihuni oleh masyarakat yang berbilang kaum dengan beragam agama. Ada orang Islam, Kristen, Protestan, Budha dan Konghucu. Yang paling menarik dan mengesankan, bisa dikatakan hampir tidak pernah terjadi gesekan dan konflik yang bernuansa SARA di pulau ini. Masyarakat yang berbilang kaum ini saling berinteraksi dan bekerjasama sesama mereka tanpa ada rasa saling curiga antara satu sama lain dan sejak dahulu mereka hidup rukun dan damai.
Diantara potret kerukunan yang bisa ditampilkan dalam tulisan ini, diantaranya seperti dituturkan Kasubag TU kementerian Agama Kabupaten Bengkalis Bapak Dr. Carles adalah orang-orang Melayu (Muslim) di pulau ini hampir setiap hari minum kopi di kedai-kedai milik orang Tionghoa (Cina) tanpa rasa curiga sama sekali terhadap "kebersihan" peralatan dapur dan makan minum yang disediakan dari sudut pandang agama.
Selain itu menurut Bapak Dr. H. Carles Azca, dalam menyambut hari raya Imlek, sepanjang jalan wilayah perkotaan bergelantungan lampion-lampion berwarnah merah yang suasananya dirasakan seperti berada di negeri tirai bambu. Hebatnya tidak ada protes sama sekali dari umat beragama lainnya di daerah ini. Mereka sepertinya tidak mempermasalahkannya. Padahal hal serupa di tempat lain barangkali tidak seperti demikian.
Tidak hanya seperti apa yang dikemukakan pak Kasubag TU kementerian agama di atas saja, tapi juga pada hari keenam perayaan imlek diadakan peringatan hari ulang tahun Dewa Ching Cui Choo She (orang Bengkalis mengenalnya dengan tok Pekong) yang diarak keliling kota Bengkalis dengan membunyikan mercon dengan tujuan untuk melakukan penyemahan. Banyak sekali orang-orang Bengkalis dari berbilang kaum menyaksikan pertunjukkan ini.
Potret suasana kerukunan lainnya di pulau Bengkalis adalah keberadaan masjid Agung Istiqamah Bengkalis yang berada di sekitar kompleks perumahan orang-orang Tionghoa. Hampir setiap hari pada lima waktu sholat diputar kaset ngaji dan pengajian keagamaan menggunakan mikrofon luar. Tapi tidak ada protes sama sekali dari masyarakat sekitarnya terkait persoalan itu.
Kemudian ada sebuah vihara di pulau Bengkalis, di saat warga budhis melaksanakan ibadah mereka, yang menjaga parkir kendaraan mereka adalah orang-orang Melayu (Islam). Selain itu banyak orang-orang melayu yang menjalin kerjasama bisnis atau bekerja di perusahaan atau toko milik orang tionghoa.
Di lembaga pendidikan pula, anak-anak sekolah dari berbilang kaum dan agama saling berteman dan akrab bergaul sesama mereka tanpa ada beban teologis sama sekali. Mereka sering berkumpul dan bermain-main bersama-sama. Pada saat ada tugas belajar kelompok, secara bergiliran mereka bertemu di rumah-rumah orang tua mereka.
Dalam aspek sosial budaya pula, setiap kali ada pesta pernikahan banyak sekali orang-orang lintas agama diundang untuk menghadirinya. Pada saat hari raya masing-masing agama, ada juga yang saling kunjung-mengunjungi satu sama lain. Tidak hanya itu, dulu ada seorang tokoh agama protestan yang tinggal di kebun kapas, ketika diundang menghadiri acara tahlilan (kenduri arwah), ia selalu hadir.
Inilah sekelumit potret kerukunan beragama di Bengkalis. Barangkali masih banyak lagi sisi-sisi kehidupan sosial budaya umat beragama di negeri ini yang belum terungkap. Mari kita rawat dan pelihara suasana kerukunan umat Beragama di Negeri ini dengan mengedepankan sikap saling menjaga dan saling menghormati satu sama lain. Wallah A'lam***(ana/am/cls)