Riau (Inmas)- Kepala Kanwil Kemenag Prov Riau, Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, menyatakan bahwa salah seorang pemikir besar Indonesia, bernama Prof Dr Soedjatmoko, Rektor Universiras PBB di Jepang, pernah ditnya tentang sistem pendidikan terbaik di zaman modern, baik masa kini maupun masa depan. Soedjatmoko menjawab bahwa siatem pendidikan terbaik untuk masa kini dan masa depan adalah sistem pendidikan pondok pesantren. Karena ternyata, lembaga lembaga pendidikan yang menamakan dirinya sekolah internasional adalah mengadopsi sistem pendidikan pondok pesantren.
Hal tersebut ditegaskannya pada saat memberikan kata sambutan pada acara Berbuka Puasa Bersama Keluarga Besar Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru, Sabtu (3/6/2017) yang dihadiri Gubernur Riau Ir H Arsyadjuliandi Rahman MM, Kapolda Riau Irjen Pol Zulkarnain, Danrem Pekanbaru, mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit SH, Pimpinan Ponpes Babussalam H Ismail Royyan, para Kyai, ustadz dan ustadzah, santri santriwati, orang tua wali santri, dan keluarga besar Ponpes Babussalam.
Ahmad Supardi yang mantan Kakan Kemenag Rohul ini lebih lanjut menyatakan, bahwa sistem pendidikan yang menamakan dirinya sekolah internasional, setidaknya mengadopsi tigs hal, yakni: Pertama, sistem boarding school atau asrama, sehingga pendidikan berlangsung 24 jam sehari semalam.
“Sistem boarding school ini telah melembaga pada setiap pondok pesantren, bukan hanya sesudah Indonesia merdeka, tetapi justru sebelum Indonesia merdeka, sistem ini telah digunakan. Sehingga dengan demikian, pendidikan berlangsung 24 jam, bukan hanya bangunnya merupakan pendidikan, tetapi tidurnyapun bahagian dari pendidikan,” jelasnya.
Kedua, penggunaan bahasa Internasional seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahkan ada yang memakai bahasa Cina. Sistem ini sejak dulu telah melembaga dalam dunia pondok pesantren, seperti penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Bahkan ada beberapa pondok pesantren yang buku mata pelajarannya menggunakan bahasa Arab seratus persen.
Ketiga, mempunyai ciri khas, berupa karakter dan keterampilan khusus, sehingga masing masing pondok berbeda kurukulumnya antara satu sama yang lain, sehingga keterampilan dan karakternyapun berbeda.
Diakhir taushiyshnya, alumni pondok pesantren Musthafawiyah Purbabaru Kab Mandailing Natal Sumatera Utara ini, menyatakan bahwa belajar dan menyekolahkan anak di Pondok Pesantren Babussalam, sudah berada di jalur yang benar, karena pendidikan pondok pesantren bernuansa masa depan, relevan masa dulu, relevan masa kini, dan relevan di masa yang akan datang.
“Tinggal pimpinan pondok meningkatkan kualitas pengelolaan dengan menggunakan manajemen modern, sebagaimana dimaksudkan Prof Soedjatmoko,” harapnya. (ash)