0 menit baca 0 %

Pertemuan Petugas Haji Kloter BTH 05 & Maktab 7 Bahas Armusna

Ringkasan: (Inmas) Riau- Pertemuan Petugas Haji kloter BTH 05 dan Pengurus Maktab 7 berlangsung hangat pada  sabtu (3/8/2019) malam di Mushalla Hotel Alzier 108 Sektor 19 Makkah Al-Mukarramah.Pertemuan ini membawahi 6 kloter antara Iain kloter BTH 5, 26, 8 dan Mes 12, 22, dan 17 Yang berjumlah lebih kurang 30...

(Inmas) Riau- Pertemuan Petugas Haji kloter BTH 05 dan Pengurus Maktab 7 berlangsung hangat pada  sabtu (3/8/2019) malam di Mushalla Hotel Alzier 108 Sektor 19 Makkah Al-Mukarramah.

Pertemuan ini membawahi 6 kloter antara Iain kloter BTH 5, 26, 8 dan Mes 12, 22, dan 17 Yang berjumlah lebih kurang 3000 dengan semangat membahas tentang persiapan ARMUSNA.

Pertemuan petugas haji dan pengurus maktab terfokus pada layanan persiapan pendorongan jamaah wukuf di Arafah, mabit di musdalifah dan mina serta sistem Pelontaran di jamarat menjadi bahan diskusi yang sangat alot.

“Mengurus perhelatan haji tidaklah semudah yang kita bayangkan, karena butuh koordinasi dengan semua pihak termasuk para pengurus Maktab atau perwakilan Arab Saudi yang mengurusi jemaah haji”.  Kata TPIHI (Pembimbing Ibadah) Dr. H.M. Tawwaf.

Hadir dalam kesempatan itu juga seluruh Petugas Kloter TPHD Karom dibawah naungan Maktab 7.

Selain itu beberapa pengurus Maktab yang menangani pemondokan jemaah sampai hadir juga pengurus maktab yang menangani alat transportasi ketika puncak haji berlangsung Yang diperkirakan pada tanggal 10 Agustus 2019.

Pertemuan tersebut dibuka oleh Pimpinan Maktab 7 Syekh Nabil Muhammad dan Penterjemahnya  Sulaiman. Pertemuan itu diawali dengan perkenalan seluruh pengurus maktab 7 dengan masing-masing bidang. 

Pada acara diskusi antara petugas haji dan pengurus Maktab itu dibahas semua hal yang berhubungan dengan ARMUSNA  termasuk minajaddid, jarak tempuh pemondokan dengan jamarat, dan urusan-urusan teknis lainnya yang menyangkut masalah jemaah.

“Hal yang sering kali terjadï di lapangan dengan maktab adalah kesalahpahaman karena kita tidak ada komunikasi awalnya. Maka ini  momen yang sangat penting untuk mendekatkan komunikasi antara maktab dengan petugas sektor”. Ujar DR. H.M.Tawwaf, (Pembimbing Ibadah Haji Riau, Kloter BTH 5).

Beberapa poin penting yang dibahas antara lain terkaït pendorongan Jamaah ke Arafah yang hanya menggunakan bus sebanyak 3 bus per-kloter, penjelasan tentang batas musdalifah dan minah (mina Jaddid)

“Pembahasan tersebut sangat klasik  karena menyangkut masalah keabsahan mabit yang merupakan urusan wajib dalam hukum haji, nafar awal dan nafar sani sampai pada persoalan jarak tempuh pelontaran di Jamarat yang berjarak 6 kilo one way”. Terangnya.

Keseriusan Petugas Kloter mendengarkan paparan dari Maktab membuahkan hasil beberapa kesepakatan, antara Iain: Kesepakatan Jadwal pendorongan dan pemulangan jemaah.

Adapun kegiatan diawali dengan survei pemondokan yang akan difasilitasi oleh Maktab dengan menyediakan 2 bus bagi petugas haJi. Setelah diskusi ARMUSNA dilanjutkan dengan pengundian urutan pendorongan (istilah pemberangkatan).

"Hal yang sudah lazim dilakukan oleh maktab setiap musim haJi, supaya kita tahu siapa kloter yang lebih dulu berangkat, pertengahan dan siapa yang terakhir”. Imbau  Tawwaf.

Melalui pertemuan ini, sebagai petugas haji Indonesia juga mereka ingin memastikan jumlah bus yang disiapkan dari Makkah ke Arafah dengan sistem tiga kali putaran bus. Misalnya bila Jemaah 1 rombongan berjumIah 45 orang maka keberangkatan akan diisi 1 rombongan ditambah satu regu karena kapasitas 1 bus sekitar 55 orang.

“Artinya Jemaah ketika akan ke Arafah tidak perlu buru buru naik, mereka (jamaah) diharapkan menunggu giliran dan tidak turun ke lobi hotel dengan berdesak-desakan, Karena busnya akan bolak balik. Jika itu ditaati maka Jemaah tidak akan berdesakan”. Paparnya.

Hal lain yang dibahas adalah terkait bus Jemaah dari Arafah ke Mudzdalifah dan keberangkatan Jemaah dari Mudzdalifah ke Mina. Para pengurus Maktab telah mengingatkan agar tidak boleh ada pelanggaran waktu yang sudah ditentukan.

“Kadang ada Juga Jemaah yang memaksakan diri keluar karena mengambil waktu afdlol, padahal Saat itu Jemaah dari seluruh negara sedang berbondong-bondong menuju jamarat. Ini yang perlu kita pahami sebagaî standar acuan kita menuju jamarat,” tegasnya.

Pertemuan hangat itu akhirnya ditutup setelah hampir 3 Jam lebih. Para perwakilan Maktab dan petugas pun kemudian bersilaturahmi sambil memakan santapan daging unta muda dan nasi. (vera)