Riau (Inmas) - Kantor wilayah Kemenag provinsi Riau yang dikoordinasi oleh Bidang Penerangan Islam zakat dan wakaf menggelar pertemuan dengan Tokoh Lembaga Kegamaan Islam Tahun 2017. Pertemuan yang bertemakan “Menjaga Ideologi Pancasila Cegah Faham radikalisme dan Intoleransi” tersebut di laksanakan di aula mini Kakanwil Kemenag Riau pada Selasa, 08 Juli 2017.
Berangkat dari tema pertemuan Ketua Majelis Dakwah Indonesia Provinsi Riau DR Abdul Razak Z mengungkapkan kalimat Qul huwallahu ahad dalam agama Islam tidak dapat dicampuri dengan hal hal lain yang akan mengurangi esensi yang terdapat dalam hakikat maknanya. “Perlu ada kehati-hatian kita dalam menjabarkan hal ini”, tuturnya. Artinya tentang keesaan Tuhan itu bermakna radikal, jika agama yang lain mengakui ada Tuhan yang lain silahkan saja, karena disitulah letak makna toleransi, ucapnya menegaskan. Namun jika dimaknai semua agama itu benar sehingga terkadang kita pun mengikuti paham yang dipakai oleh agama lain, ini yang tidak benar, ucapnya.
Menurutnya di dalam islam ada toleransi mengenai khilafiyah, ketika paham khilafiyah tersebut kita giring kepada sebuah esensi dan penjelasan, maka hal ini dapat menjadi sebuah intoleransi, jelas Abdul Razak Z. Untuk itu kita harus tetap konsisten dan konsekwen dengan Islam sebagai agama yang benar, ucapnya memberikan pendapat.
Sementara itu terkait tema yang diusung Kanwil Kemenag Riau dalam pertemuan dengan lembaga keagamaan Hasyim mengatakan kita sebagai lembaga keagamaan harus bisa menyampaikan isi khutbah kepada masyarakat dengan baik dan mudah dicerna sekaligus mudah dipahami, jangan sampai asumsi yang timbul membuat sebuah problema ditengah masyarakat awam yang belum tentu bisa sepenuhnya memahami hakikat dari tema ini, terang Hasyim selaku Ketua MUI Pekanbaru.
Pendapat lain diusulkan oleh MUI Riau Zulhusni Domo, mengingat pemahaman tentang radikalisme tidak terlalu mencuat di Provinsi Riau, akan lebih baik kita mengangkat tema tentang Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin. “Bagi yang paham bagus, bagi yang tak paham bisa salah kaprah dalam memahaminya, ujar Zulhusni Domo. Diakuinya bahwa Ini adalah tugas berat bagi Lembaga keagamaan untuk menyampaikan kepada muballigh muballigh dengan pemahaman dari sudut pandang dan ilmunya masing masing, sehingga mereka pun bisa bijak menyampaikan isi dakwah kepada masyarakat.“Dikhawatirkan akan menjadi multi tafsir bagi mubaligh kita, ucapnya. “Intinya kita perlu meramu hal ini menjadi dakwah yang santun dan rahmatan lil ‘alamiin.
Merespons berbagai usulan dan pendapat yang berkembang pada pertemuan tersebut, Kolonel Wibisono dari BIN (Badan Intelijen Negara) Provinsi Riau mengatakan tema ini diusung karena bersempena dengan Hari Kemerdekaan RI yang sangat terkait dengan ideologi dan lahirnya pancasila. Hal ini menurutnya tak lain untuk menjaga ideologi bangsa sebagai negara kesatuan. Dengan berkembangnya pemahaman radikal saat ini diharapkan lembaga keagamaan yang ada melalui muballighnya dapat menjadi penenang dan penyejuk bagi masyarakat.
“Secara keyakinan, saya sangat setuju bahwa kita harus radikal terhadap keyakinan agama yang kita yakini”, ucapnya. Namun tema ini sebagai media untuk mewujudkan kecintaan terhadap Pancasila sebagai dasar negara Indoensia. Karena toleransi itu ada batasnya dan harus didukung oleh prinsip yang kuat. “Mari kita satukan visi dan misi bersama sama agar kita bisa menyampaikan secara bijak terkait hal ini kepada masyarakat”, ucap Wibisono.
Untuk di Riau sendiri ia mengakui, kerukunan masyarakatnya berjalan tenang dan kondusif terjauh dari konflik konflik keagamaan seperti yang terjadi di daerah lain. Sudah seharusnya kita bisa berperan penting dalam meningkatkan keamanan di Provinsi Riau ini.
Pada kesempatan yang sama, Kasubbag Hukum dan KUB H Anasri mengungkapkan tema yang diangkat tersebut berangkat dari hukum research dan fenomena yang terjadi ditengah masyarakat saat ini. Ketika Islam dijalankan secara kaffah, agama lain tersebut tidak akan tertindas. Justru akan menjadi maju, menjadi terjamin dan menjadi toleransi, karena Islam sendiri adalah agama yang sangat toleransi terhadap agama lain, ujarnya. Dengan momen Kemerdekaan RI makanya tema ini yang diangkat, menurutnya Jika Islam Rahmatan Lil ‘Alamin diterapkan dalam kehidupan dan terwujud maka ideologi Pancasila ini otomatis akan terjaga, ucapnya mantap.
Sebelumnya, dalam sambutannya HM Saman selaku Kabid Penaiszawa mengatakan bahwa sudah menjadi hal yang urgen bagi Kemenag untuk bersinergi dengan lembaga keagamaan yang ada di Provinsi Riau. Secara teknis kegiatan kegiatan yang ada di bidang Penaiszawa pun sub bagian KUB yang melibatkan tokoh agama Islam maupun lintas agama akan semakin intens dilaksanakan, jelas Saman.
Hasil dari pertemuan tersebut sepakat bahwa dalam menentukan Judul dan isi khutbah Jum’at akan diserahkan kepada masing masing muballigh dan lembaga keagamaan, yang bersentuhan dengan tema Menjaga Ideologi Pancasila Untuk Mencegah Faham radikalisme dan Intoleransi. Diharapkan dengan adanya pertemuan tokoh tokoh agama Islam ini dapat melahirkan konsep konsep dan pemahaman luar biasa, sehingga dapat mengambil kebijakan kebijakan yang terbaik bagi masyarakat provinsi Riau, harapnya.
Tampak hadir pada pertemuan tersebut Kasubbag Hukum dan KUB H Anasri Nurdin, Sekjen MUI Provinsi Riau Zulhusni Domo, Badan Intelijen Negara Provinsi Riau Kolonel Wibisono, Erman Bani Sekretaris MDI Kota Pekanbaru, Ketua Umum IKMI PKU Mashuri, Sekum DPW Ittihadul Muballighin Basuri A Kadir, Staf MUI Kota Pekanbaru Muhammad Abror, dan sejumlah staf Sub bagian Hukum KUB kanwil Kemenag Riau.(vera/faj)