Riau (Inmas) Persiapan pelaksanaan MQK Nasional ke- VI di Jepara mendatang sudah hampir rampung dilakukan Bidang Pakis Kanwil Kemenag Riau. Dibuktikan dengan suksesnya proses seleksi tingkat Provinsi pada tanggal 7-9 Bulan April lalu. Peserta yang telah lulus seleksi Provinsi berhak mewakili Riau untuk even nasional mendatang. Pada kegiatan seleksi tersebut turut hadir Gubernur Riau, Kakanwil Kemenag Riau, Kapolda, Danrem. Demikian disampaikan Drs H Janheri MA staff bidang Pakis Kanwil Kemenag Riau saat berbincang dengan salah satu tim inmas, diruang kerjanya pada Rabu siang (19/07).
Kegiatan yang disinyalir akan berlangsung di Pondok Pesantren Raudhatul Muttabi’in Balai Kambang jepara tersebut, kontingen Riau insyaallah akan mengikuti semua cabang terangnya. Kecuali untuk debat dua bahasa Inggirs dan Arab. “Khusus untuk debat bahasa ini , Riau hanya mengutus peserta debat Bahasa Arab” ujarnya. Dikatakannya terdapat tiga marhalah yang akan diperlombakan pada MQK ini, diantaranya marhalah al’ula untuk SD, marhalah wustha untuk SMP, marhalah ‘ulya untuk SLTA.
Kitab yang diperlombakan dalam musabaqah tersebut pun berbeda beda, untuk tingkat ‘ula ada lima kitab seperti fiqh, nahwu, akhlak , tauhid, untuk marhalah wustha sebanyak sembilan kitab seperti fiqh, nahwu, akhlak, tarekh, hadis, tafsir, usul fiqh, balaghah, dan tauhid. dan ‘ulya ada 11 kitab seperti fiqh, nahwu, akhlak, tarekh, hadis, tafsir, usul fiqh, balaghah, tafsir hadis, tafsir usul fiqh dan tauhid terangnya. Dikatakannya untuk kitab tauhid, baru tahun ini dilaksanakan untuk semua marhalah, tahun sebelumnya pada MQK di Jambi belum diperlombakan, tuturnya. Maka total semua kontingen untuk putra dan putri Riau yang akan mengharumkan nama Riau nanti insyaallah sebanyak 50 peserta, ditambah lagi dengan debat bahasa arab dua tim, sebanyak enam orang peserta.
Ia mengaku seleksi yang kedua ini jauh lebih meriah ketimbang tahun sebelumnya. Hal ini tentu sangat butuh pembinaan lebih lanjut dari masing masing peserta. “untuk pembinaan selanjutnya kita serahkan kepada pimpinan masing masing pondok pesantren”, jelas pria yang akrab disapa Yan ini.
Sesuai hasil raker bulan Mei lalu, sebutnya rencana pelaksanaan musabaqah ini pada bulan Oktober yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional, namun akhirnya diundur pada bulan Desember. Meskipun demikian keputusan ini belum final. “Kita juga masing menunggu informasi selanjutnya dari pusat”, ucapnya. Helat akbar nasional bertemakan “Dari Pesantren Untuk Penguatan Karakter dan Kepribadian Bangsa tersebut direncanakan akan dihadiri dan dibuka langsung oleh Presiden dan Wapres.
Kegiatan ini urgen, karena dalam musabaqah ini santri dituntut melakukan kajian kajian terhadap kitab kitab thurash, kitab klasik. Dan yang patut disyukuri juga, ada yang menarik dan berbeda pada tahun ini." 30 persen dari kitab yang diperlombakan itu adalah hasil karya ulama nusantara, bersyukur kitab karya ulama nusantara hari ini sudah represantatif diperlombakan dalam MQK nasional ke-VI nanti", jelasnya. Jika dulu hanya 1 atau 2 persen saja, karena mayoritas selama ini kita menggunakan kitab dari timur tengah. Sebut saja karya Imam Annawawi, Kiyai Mafhud Tarmash, sebutnya mencontohkan.
Ia sangat apresiatif dengan kegiatan MQK ini jika rutin dilaksanakan, karena menurutnya bila dibandingkan dengan musabaqah yang lain, MQK betul betul musabaqah yang menguji kompetensi anak, sekaligus dibutuhkan kesungguhan dalam menggali ilmu ilmu agama. Menurutnya butuh sinergitas yang tinggi antara Kemenag dan Pemprov setempat, siapa tahu nanti Riau yang dipercaya sebagai tuan rumah, katanya.
Menurutnya dengan MQK akan lahir satu pandangan dan pemikiran yang utuh dalam menjaga NKRI, karena kitab kitab yang diperlombakan sekarang diarahkan untuk standarisasi kitab yang akan digunakan pondok pesantren di seluruh Indonesia kedepan. Artinya bisa menjadi rujukan dan standar minimal untuk kurikulum masing masing pesantren, pada akhirnya akan dapat menekan dan meminimalisir perbedaan ikhtilaf lagi. Targetnya sungguh luarbiasa kedepan, mudah mudahan ikhtilaf yang ada selama ini akan berkurang, tandasnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Drs H Fairus MA mengungkapkan Kegiatan MQK Provinsi sudah terlaksana dengan baik, yang diikuti sekitar 500 santri diseluruh Provinsi Riau, hanya beberapa cabang saja yang kita belum laksanakan, namun untuk tingkat nasional kita sudah bisa mengikuti nanti.
Insyaallah Riau akan mengirim full peserta, ucapnya optimis. Ia sangat berharap kontingen Riau akan dapat menorehkan prestasi kembali seperti tahun tahun sebelumnya di beberapa cabang di tingkat nasional, sebab saya pribadi yakin kualitas Riau bagus.
Fairus sangat mengharapkan pihak Provinsi dengan adanya Radio gram yang diberikan Mendagri nanti, Gubernur bisa menanggapi hal itu dengan sangat baik, minimal nanti akan ada bantuan untuk pembinaan dan dana operasional tim atau kafilah selama di Jepara nanti. Seyogyanya kedepan, pemprov menjalin hubungan yang intens dengan kemenag dan pondok pondok yang ada di Riau. Karena selama ini diakuinya pondok pesantren kita kurang mendapat perhatian dari pemprov. Semoga nanti Gubernur juga bisa ikut menghadiri acara pembukaan yang akan dibuka Presiden dan wapres ini, ungkapnya.
Ia berpesan, agar nama dan eksistensi pondok makin berkibar, sangat diharapkan kepada para kyai yang didaulat sebagai pembimbing, dapat pro aktif dan melakukan pembinaan secara intensif dan maksimal. Ini penting, lanjutnya dalam upaya kita mengangkat syi’ar Islam di tengah masyarakat. Begitu pula kepada para santri yang akan berlaga nanti agar rutin dan gigih belajar menggali ilmu menghadapi even nasional nanti, tandasnya. “Jangan lagi berfikir tentang aliran aliran maupun pemahaman yang berbeda beda, fikirkan syi’ar ilmu keIslamannya, tandas pria kalem ini mengakhiri obrolan.(vera/faj)