Kampar (Inmas) – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1438 H, Dharma Wanita (DW) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar hadirkan Abuya Kondang Nursal SHi. Demikian disampaikan Humas Kemenag Kampar Gustika Rahman SPdI, hari selasa (13/12) diruang kerjanya. Acara tersebut diadakan pada hari kamis kemaren (08/12) di Aula Mini Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar dan dibuka langsung oleh Ketua Dharma Wanita Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Dra H Nurias Fairus.
Dalam arahannya Nurias mengatakan, bahwasanya Hari lahir Nabi Muhammad SAW ini memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Pada hari kelahiran ini, umat Islam di berbagai belahan dunia merayakannya dengan berbagai macam acara yang pada intinya mengingat kembali perjuangan dan suri teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, melalui momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, mari kita terus berpegang teguh kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi , sebagaimana yang telah dicontohkan, baik dalam kehidupan pribadi Rasulullah, maupun dalam bermasyarakat.
Sementara itu Abuya Nursal SHi dalam Tausiyahnya menyampaikan, Memperingati maulid Nabi Muhammad SAW ini memiliki beberapa nilai dan makna, diantaranya: Pertama, nilai spiritual. Setiap insan muslim akan mampu menumbuhkan dan menambah rasa cinta pada beliau saw dengan maulid. Luapan kegembiraan terhadap kelahiran nabi saw merupakan bentuk cerminan rasa cinta dan penghormatan kita terhadap Nabi pembawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana surah Yunus; 58. Karena figur teladan ini diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam (surah al-Anbiya’; 107). Kegembiraan Abu Jahal dengan kelahiran Nabi saw saja dapat mengurangi siksa neraka yang ia cicipi tiap hari senin. Apalagi kegembiraan itu disertai dengan keimanan. Dengan memperingati maulid, kita akan sendirinya ingat dengan perintah bershalawat kepada Nabi saw. Allah swt dan malaikat pun telah memberi contoh bagi kita dengan selalu bershalawat kepada beliau saw (surah al-Ahzab;56).
Kedua, nilai moral dapat dipetik dengan menyimak akhlak terpuji dan nasab mulia dalam kisah teladan Nabi Muhammad saw. Mempraktikan sifat-sifat terpuji yang bersumber dari Nabi saw adalah salah satu tujuan dari diutusnya Nabi saw. Dalam peringatan maulid Nabi saw, kita juga bisa mendapat nasehat dan pengarahan dari ulama agar kita selalu berada dalam tuntunan dan bimbingan agama.
Ketiga, nilai sosial. Memuliakan dan mem-berikan jamuan makanan para tamu, terutama dari golongan fakir miskin yang menghadiri majlis maulid sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta. Hal ini sangat dianjurkan oleh agama, karena memiliki nilai sosial yang tinggi (surah al-Insan;8-9).
Keempat, nilai persatuan akan terjalin dengan berkumpul bersama dalam rangka bermaulid dan bershalawat maupun berdzikir. Diceritakan bahwa Shalahuddin al-Ayubi mengumpulkan umat islam dikala itu untuk memperingati maulid Nabi saw. Hal itu dilakukan oleh panglima islam ini bertujuan untuk mempersolid kekuatan dan persatuan pasukan islam dalam menghadapi perang salib di zaman itu, pungkas Nursal (Ags/Usm)