Kuansing(inmas). Mustahik Petani binaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Kuantan Singingi di Desa Koto Baru, kec. Singingi Hilir,dibelakang kantor Desa Koto Baru memulai panen bawang tahap pertama pada Sabtu (19/04/2020). Saprianto (47), salah seorang penggarap lahan optimistis hasil panennya akan meningkat.
Sebab ia telah menerapkan sistem pertanian semi organik yang pada lahan garapan BAZNAS lainnya telah terbukti mengalami perbaikan hasil panen, bahkan meski di musim kemarau yang lalu asupan sinar matahari sangat kuat sehingga membutuh penyiraman yang eksra ungkap Sapriadi.
Sapriadi berharap Hasil panen pertama ini rencananya akan langsung diproses, di pasarkan dengan cara antar kerumah bagi yang mau pesan.
Sepriadi musim panen kali ini sudah rampung panen sekitar dua pekan lalu, dan memperoleh hasil panen lebih baik dari petani sekitarnya yang belum menerapkan pertanian semi organik. Rata-rata lahan pertanian 2 orang mustahik 40x40 yang sudah di timbang menghasilkan 25 KG, namun Buyung berhasil mendapatkan 17 KG pada panen akhir Maret lalu.
Masriadi, S. Fil mengungkapkan telah melakukan Pendampingan yang diberikan komprehensif dan terkait satu sama lain, mulai dari memberi pendampingan perubahan pola pikir, perbaikan sistem tanam dan pengelolan hasil panen, termasuk pendampingan proses pendistribusian hingga berhasil sampai ke tangan konsumen. Satu hal lagi program ini juga dihadirkan untuk memandirikan para mustahik agar bisa berproses menjadi muzaki.
“Konsep pendampingan ini kita maksudkan menuju pertanian organik. Namun saat ini pertanian binaan kita masih bertahap menggunakan konsep semi organik, intinya mengurangi penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida, diganti dengan pupuk organik dan pestisida nabati,” tutur Sekretaris Basnaz kec. Singingi Hilir Masriadi, S. Fil
Menurut Masriadi tantangan penerapan pertanian organik ini adalah proses yang tida semudah dan secepat hasil seperti pertanian konvensional menggunakan bahan kimia. Penggunaan bahan kimia, meski tidak salah, namun pada jangka panjang dapat mengurangi kesuburan tanah.
“Mindset yang kita bangun sejak awal adalah pentingnya sistem pertanian organik untuk menjaga kesuburan tanah. Penyuluhan berkelanjutan sambil membuat lahan percontohan, kita lakukan. Lambat laun petani binaan bisa melihat dan membuktikan keunggulan konsep pertanian organik yang ditawarkan. Kita juga jelaskan dengan bahan kimia mungkin semua masalah pertanian mudah teratasi, ada hama misalnya tinggal pakai pestisida dan seterusnya, tapi kita terangkan bahwa dampak akhirnya tidak baik untuk lahan itu sendiri. Sementara dengan sistem pertanian organik, meski perlu perhatian ekstra namun hasilnya akan lebih bagus dari segi hasil panen dan kesuburan tanah,” imbuhnya.
Mahyu Budiman, S. Pd.I penyuluh agama islam non PNS kec. Singingi Hilir diDesa binaannya juga berharap keberhasilan dan kepuasan hasil masa panen ini mampu sedikit menghibur para mustahik petani di tengah kekhawatiran penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.
Terkait pencegahan Covid-19 pula maka pelaksanaan panen di lapangan diupayakan tetap dengan mengatur jarak antar pekerja, menggunakan masker dan ketentuan membersihkan diri secara tepat usai beraktivitas di Ladang.(MB)