0 menit baca 0 %

Penyuluh Agama Islam Rohil manfaatkan Ramadlan dengan perbanyak kegiatan

Ringkasan: Rokan Hilir (inmas) Ramadlan bulan yang berkah, bulan bertabur kebaikan. Bahasa yang disampaikan Ustadz Soni saat menyampaikan taushiyah bàda tarawikhnya di Mushalla Batusshabirin Jl. Sidojaya, Lenggadai Hulu Kec. Rimba Melintang, Selasa (30/5).Bapak kelahiran Bengkalis Riau ini adalah salah seoran...

Rokan Hilir (inmas) – Ramadlan bulan yang berkah, bulan bertabur kebaikan. Bahasa yang disampaikan Ustadz Soni saat menyampaikan taushiyah bàda tarawikhnya di Mushalla Batusshabirin Jl. Sidojaya, Lenggadai Hulu Kec. Rimba Melintang, Selasa (30/5).

Bapak kelahiran Bengkalis Riau ini adalah salah seorang penyuluh agama Islam (PAI) non PNS yang tercatat di Kementerian Agama Kabupaten. Rokan Hilir sejak tahun 2015 yang lalu. Dalam kiparahnya sebagai penyuluh agama Islam ustadz Soni mengambil objek kepenyuluhan di Masjid Jamì Almustaqim, Lenggadai Hulu. Ianya aktif selain selaku khatib juga kegiatan-kegiatan lain, seperti wirid tiap malam jumat, istighatsah bulanan dll.

Pada bulan Ramadlan tahun ini, Mushalla lingkungan ia berdomisili, melakukan penjadwalan petugas pelaksana shalat tarawikh plus taushiyahnya. Malam kelima ini giliran Ustadz Soni. Tema yang dipilih adalah pengertian puasa secara umum. Ia menjelaskan, bahwa puasa menurut bahasa/ lughat adalah menahan, menahan apa saja.

Maka saat kita berpuasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga serta hubungan suami istri, bukan menahan perut saja. Tetapi menahan telinga, menahan mata, mulut, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari melakukan hal-hal yang dilarang Agama Islam. Bahkan kalau puasanya para wali, ulama, orang-orang shalih, sampai menahan hati jangan sampai terkotori penyakit hati seperti iri, dengki, hasuf, syufàh, namimah dll

Dalam penutup taushiahnya ia menegaskan, “jika kita sudah bisa bisa melakukan demikian, maka bisa dipastikan akan sampai pada predikat muttaqin, yang sehingga akan berdampak baik pada perbuatan-perbuatan setelah Ramadlan.”

Jamaah di Mushalla Baitusshabirin terbilang banyak, kurang lebih 100 orang belum termasuk anak-anak. Mushalla ini bertahan dengan 20 rakaat tarawikh, walau sekelilingnya sudah pindah 8 raakat. Mushallah yang saat ini diasuh Ustadz Abdullaah Nawawi ini mulai dibangun permanen tahun 2001. Pada waktu itu masih diasuh ustadz Taubat Nasuha.

Terkait jumlah rakaat yang diambil ustadz Abdullah menjelaskan, ini bukan persoalan jumlah rakaat, 8 atau 20, tetapai pekerjaan yang paling disukai Allaah adalah Istiqomah. Dari dulu kami melaksanakan 20, maka sampai sekarangpun kami tetap 20. Yang penting perbedaan itu bukan untuk jadi bahan perdebatan, tetapi untuk diamalkan.

“Alistiqaamatu Khairun Min Alfi Karaamah,” ungkapnya. (Nsh)