Tangerang Selatan (Kemenag) — Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Helmi Halimatul Udhma menekankan bahwa inklusi harus menjadi budaya di lingkungan Kemenag, bukan sekadar program. Hal ini disampaikan Helmi saat membuka Peringatan Hari Disabilitas Internasional di Tangerang Selatan.
“Inklusi adalah budaya cinta. Cinta yang memampukan kita untuk melihat kemampuan, bukan kekurangan. Cinta yang menggerakkan kita untuk membuka pintu, bukan membatasi ruang. Cinta yang mengajarkan bahwa perbedaan bukan hambatan, tetapi sebagai anugerah,” ujar Penasihat DWP Kemenag Helmi Halimatul Udhma, Rabu (10/12/2025).
Penasihat DWP Kemenag Helmi menyampaikan bahwa masih ada penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan sosial, layanan, pendidikan, dan keterbatasan akses.
“Di tengah keberagaman yang Allah anugerahkan kepada kita semua, masih ada anak-anak, saudara-saudara muda, dan penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan sosial, hambatan layanan, pendidikan, dan keterbatasan akses,” kata Penasihat DWP Kemenag Helmi.
“Saya sangat mengapresiasi langkah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan semua unit-unit yang telah membuat layanan pendidikan inklusi, menghadirkan tenaga pendidik yang begitu ramah terhadap disabilitas, mengembangkan rumah ibadah yang ramah, menciptakan ruang-ruang belajar berbasis cinta, empati, dan martabat,” sambungnnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Agama yang telah memperkuat regulasi dan memastikan pendidikan tetap menjadi ruang aman bagi seluruh peserta didik Kemenag.
“Kebijakan Bapak Menteri menjadikan gerakan inklusi bukan hanya komitmen moral, tetapi menjadi sistem yang melindungi hak, martabat, dan masa depan peserta didik di seluruh Indonesia,” tutur Helmi Halimatul
Helmi Halimatul merinci tiga langkah utama yang harus diperkuat untuk memastikan gerakan inklusi berjalan efektif di seluruh satuan kerja dan daerah.
“Untuk memastikan gerakan ini, ada tiga langkah utama. Yang pertama, tanamkan nilai inklusi dalam keluarga. Yang kedua, wujudkan regulasi menjadi budaya kerja. Yang ketiga, gerakan kolaborasi dari pusat hingga daerah,” pungkasnya.
Turut hadir dalam giat ini Menteri Agama Nasaruddin Umar, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno, para pengurus dan anggota DWP Kemenag, dan para penyandang disabilitas. (*)