Siak (Inmas) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak menggelar kajian tabligh akbar sampena kegiatan Peringatan Hari Ayah Nasional ke 11 dan Hari Ibu ke-89 di Masjid Al-Fatah, Jl. Dr. Sutomo, Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak, dengan mendatangkan penceramah terkenal dari bumi melayu yang juga seorang ahli tafsir yakni, Dr. Musthofa Umar, MA. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pejabat yang berada di Kabupaten Siak termasuk dalam hal ini Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Siak, Drs. H. Muharom.
Dalam sambutannya, Bupati Siak, Drs. H. Syamsuar, M.Si mengatakan, “Peringatan Hari Ayah dan Ibu tahun ini merupakan momentum untuk memprioritaskan kemajuan peran orang tua, mengapa? Karena orang tua punya peran penting bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu perlu dipelihara harkat dan martabatnya sebagai aset bangsa yang mempunyai peran mulia membina keluarga yang harmonis dan sejahtera”, ujarnya.
Syamsuar juga menambahkan, peran orang tua harus ditingkatkan, sehingga dapat turut memajukan daerah. “Situasi itulah yang membuat peran ayah dan ibu harus mampu ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kemajuan daerah akan berkembang dengan pesat seiiring keberhasilan peran ayah dan ibu dalam pembangunan,” pungkasnya.
Sementara itu, Dr. Musthofa Umar, MA menjelaskan tentang bagaimana kemuliaan orang tua di dalam Islam. Islam menjadikan berbakti kepada kedua orang tua sebagai sebuah kewajiban yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang amal-amal saleh yang paling tinggi dan mulia, “Shalat tepat pada waktunya … berbuat baik kepada kedua orang tua … jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Lihatlah, betapa kedudukan orang tua sangat agung dalam Islam, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menempatkannya sebagai salah satu amalan yang paling utama. Lalu, sudahkah kita berbakti kepada kedua orang tua?”, ujar Doktor Tafsir pengarang Kitab Tafsir Al-Ma’rifah tersebut.
Ditambahkannya lagi, “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Lagi-lagi beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu pun bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Maka beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)”.