Riau (Inmas) – Dalam rangka meningkatkan kerukunan dan menjalin kerja sama umat beragama, Bimas Katolik adakan Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama Katolik. Dialog ini di selenggarakan pada tanggal 29 Februari 2020 di Hotel Drego. Seluruh kegiatan yang dilaksanakan full day ini, segala hal terkait akomodasi dan konsumsi bagi peserta dipusatkan di Hotel Drego.
Kegiatan Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama Katolik se-Kota Pekanbaru ini dilaksanakan oleh Bimas Katolik, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau.
Dikatakan Alimasa Gea SAg MPd Kegiatan ini merupakan realisasi/pelaksaaan Program Bimas katolik Tahun 2020, yang dituangkan dalam DIPA Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau Tahun 2020.
Ia meyampaikan diatas keterbatasan anggaran kegiatan ini hanya melibatkan 30 orang peserta saja dari majelis agama katolik, pengurus lembaga agama katolik Kota Pekanbaru.
Kegiatan Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama Katolik se- Kota Pekanbaru sebagai Prioritas dalam Program Bimas Katolik. Mulai dari pejabat eselon I hingga Pembimas Katolik Riau dengan maksud untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama di Indonesia khususnya di Riau sesuai dengan Mantra pertama dan kedua Menteri Agama yakni Moderasi Hidup Beragama dan Kebersamaan umat. Demikian disampaikan Alimasa Gea SAg MPd kepada humas.
Artinya kita memprioritaskan pemahaman agama secara internal terlebih dahulu. Diantara tokoh agama Katolik perlu menyatukan persepsi dalam pemahaman keagamaan umat Katolik.
Sehingga umat Katolik menjadi umat yang egaliter tidak mengedepankan ego dan fanatisme yang berlebihan terhadap agama yang diyakini.
Disamping kita meyakini agama sendiri, kita harus sadar bahwa perlu juga menghargai keyakinan agama lainnya adalah benar. Sehingga bisa memangkas potensi sikap sikap intoleran dalam diri masing masing.
“Kalau kita kembali pada sejarah kehidupan kita, kita ini semuanya bersaudara,” tukasnya.
Sehingga moderatnya kita sebagai manusia tidak hanya fokus pada kehidupan pribadi tetapi bagaimana kita mewartakan diri kita bkepada sesama.
Itulah mengapa urgensi membangun dialog di dalam komunitas internal umat Katolik, sebut Alimasa Gea.
“Semoga dengan hadirnya komunikasi yang dibangun lewat dialog ini melahirkan anggapan anggapan yang positif hingga tercipta kerukunan dalam internal sesama umat Katolik”, imbuhnya.
Ia meyakini ketika seseorang sudah memahami Komunikasi yang baik dalam wilayah internal, maka ketika keluar juga harus bisa membangun hubungan yang baik antar sesama umat beragama lainnya. Termasuk antara sesama pemeluk agama dan pemerintah sebagai mitra.
Tentu sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan materil maupun kebutuhan spiritualnya.
Oleh karena itu untuk mewujudkan hal itu, manusia/masyarakat harus berpedoman pada nilai-nilai agama yang mengajarkan cinta kasih, kedamaian, serta sifat saling menghargai dan menghormati, supaya tidak menimbulkan konflik antar agama, Tukasnya mengakhiri bincang.(vera)